Tampilkan postingan dengan label biopori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biopori. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2012

Lubang Resapan Biopori, manfaatnya bagi ibu bumi



Tujuan pembuatan LRB adalah meningkatkan daya serap tanah akan air. Jika jumlahnya banyak akan mampu mengurangi potensi banjir. Bila LRB berfungsi dengan baik, ada beberapa manfaat tambahan bagi kelestarian bumi, yaitu :
  1.  Mengurangi resiko penyebaran penyakit-penyakit akibat gigitan nyamuk seperti demam berdarah, chikungunya, malaria dan kaki gajah karena  jumlah genangan air juga berkurang
  2. Mengurangi volume sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga. 
  3. Mengurangi masalah perkotaan yang ditimbulkan oleh sampah 
  4.  Mengurangi emisi gas pembentuk efek rumah kaca yang dihasilkan oleh tumpukan sampah di atas tanah. 
  5. Tanah di sekitar LRB menjadi subur akibat aktivitas makhluk-makhluk hidup di dalam tanah.
Seperti yang akan dimual dalam warta jemaat gki surya utama 6 mei 2012 (dengan sedikit perubahan) go green Indonesia!

Pemeliharaan Lubang Resapan Biopori



Satu-satunya cara memelihara LRB-LRB yang sudah dibuat adalah dengan mengisinya dengan sampah organik. LRB baru berfungsi sesuai namanya sebagai resapan biopori bila diisi oleh sampah organik.  Sampah organik adalah semua jenis sampah yang dapat membusuk, seperti rumput, daun kering, kulit buah, batang sayur yang tidak termakan, ampas kelapa, sisa makanan. Sampah ini akan dicerna oleh makhluk-makhluk hidup di dalam tanah, sehingga lama kelamaan akan menyusut.  Setelah isi menyusut, LRB harus diisi sampah lagi.  Artinya selama penghuni rumah masih beraktivitas, sampah organik akan terus diproduksi dan LRB tidak akan pernah kosong.

Untuk mencegah tikus, kucing atau anjing mengais-ngais isi LRB, pengisian sampah ke dalam lubang sebaiknya sampai 10 cm di bawah permukaan tanah.  Selain itu, sampah daging, tulang dan unsur-unsur hewan lainnya sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam LRB.

Jenis sampah organik lain yang sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam LRB adalah biji buah-buahan dan batang tanaman yang berakar, karena berpotensi tumbuh menjadi tanaman. Tanaman dari biji-bijian ini akan tumbuh tidak terkendali dan merusak keindahan pekarangan.

Bila jumlah sampah organik lebih besar daripada daya tampung LRB, proses pembusukan dapat dipercepat dengan memasukkan mikro organisme ke dalam LRB. Ada banyak sumber mikro organisme yang dapat membantu proses pembusukan, di antaranya air tape, nasi basi, bonggol pisang, tempe dan makanan fermentasi lainnya. 

Seperti yang dimuat dalam warta jemaat gki surya utama 29 april 2012
go green Indonesia!

Mari membuat Lubang Resapan Biopori




Bila di rumah Anda belum ada LRB, Anda dapat membuatnya sendiri. Pembuatan LRB bukanlah hal yang sulit. Dengan menggunakan bor tanah, satu lubang dapat dibuat dalam waktu 10 sampai 20 menit, tergantung kekerasan tanah. Ada beberapa bor tanah di gereja yang dapat dipinjam untuk membuat LRB-LRB.
Lubang dapat dibuat di pekarangan, di dasar saluran air buangan, bahkan di tempat yang sudah dicor semen. Bila ada perbedaan tinggi tanah, LRB dibuat di bagian paling rendah agar air dapat mengalir masuk kedalam lubang. Jarak antar lubang sekitar 3 hingga 4 meter.

Disain bor tanah dibuat sedemikian rupa sehingga dapat membuat lubang berdiameter 10 cm. Mata bor terdiri atas 2 buah pisau yang ujung-ujungnya menyatu membentuk lubang berbentuk seperti mata. LRB dibuat dengan cara memutar bor tanah searah jarum jam.  Bila bor diputar di dalam tanah, kedua pisau ini akan mengeruk tanah yang dilalui dan tanah hasil kerukan akan berkumpul di tengah-tengah lubang mata bor. Setiap kali tanah yang terkeruk ini harus dilepaskan supaya mata pisau dapat mengambil tanah lagi hingga mencapai kedalaman 80 - 100 cm. Lebih dalam dari itu tidak ada gunanya, karena oksigen sudah sangat tipis, jadi tidak memungkinkan bagi kehidupan. 

Agar tanah di sekitar lubang tidak longsor, sekeliling tepi lubang disemen. Di atas lubang bisa diletakkan  pot tanaman untuk mencegah orang terperosok. Pot ini juga berfungsi untuk mencegah kucing atau anjing mengais-ngais  isi LRB. 

Seperti yang dimual dalam warta jemaat gki surya utama 22 april 2012
go green Indonesia!

Lubang Resapan Biopori.... apa kabarnya?



Seperti yang ditulis di tulisan sebelum ini, biopori adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk oleh aktivitas makhluk hidup dalam tanah. Lubang-lubang ini akan terisi oleh udara dan menjadi tempat berlalunya air sehingga meningkatkan daya serap tanah terhadap air.  Salah satu cara untuk meningkatkan jumlah biopori adalah dengan membuat LRB pada permukaan tanah untuk meningkatkan jumlah biopori dalam tanah.

Beberapa tahun belakangan ini, banyak acara digelar dengan label "go green". Salah satu kegiatan di dalamnya adalah pembuatan LRB.Artinya sudah banyak LRB yang dibuat. Lubang-lubang ini baru dapat berfungsi sebagai resapan biopori jika diisi dengan sampah organik. Sampah ini menjadi makanan bagi makhluk-makhluk dalam tanah sehingga tetap hidup dan aktif bergerak membuat lubang-lubang kecil disekitar LRB. Dengan aktifnya makhluk hidup dalam tanah di sekitar LRB, maka jumlah biopori akan meningkat terus. Dengan demikian LRB dan biopori bersama-sama akan meningkatkan daya serap tanah terhadap air.

Mudah-mudahan pembuatan LRB-LRB selama ini bukan sekedar kegiatan seremonial belaka dan tidak dilanjutkan dengan menghidupkan LRB. Apakah LRB-LRB di rumah Anda masih terus diisi sampah? 

Seperti yang dimuat dalam warta jemaat gki surya utama 15 april 2012 (dengan penyesuaian)
go green Indonesia!

BIOPORI , sekedar mengingatkan lagi

Makin banyaknya tanah di Jakarta yang ditutupi bangunan beton menyebabkan daya tampung tanah terhadap air makin berkurang. Daya serap tanah Jakarta terhadap air nyaris tidak ada, karena itu air hujan hampir seluruhnya mengalir ke laut. Daya tampung sungai dan kanal-kanal banjir yang penuh sampah kalah besar dibandingkan jumlah air hujan yang harus dialirkan, sehingga kelebihan air membanjiri kota. Penurunan daya serap tanah terhadap air menyebabkan jumlah air tanah makin menyusut. Akibatnya air laut menyusup ke dalam air tanah Jakarta. Air sumur jadi payau bahkan asin.

Salah satu cara untuk meningkatkan daya serap tanah terhadap air adalah dengan menambah jumlah BIOPORI pada tanah. BIOPORI adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk oleh aktivitas makhluk hidup dalam tanah, seperti pengakaran pohon, cacing tanah, rayap, tikus, serangga, keong dan makhluk-makhluk kecil lain. Lubang-lubang ini akan terisi oleh udara dan menjadi tempat berlalunya air. Hal ini membuat tanah gembur dan meningkatkan daya serap tanah terhadap air. Makin banyak biopori, makin besar air yang dapat diserap tanah.

Jumlah BIOPORI dapat diperbanyak dengan menanam pohon-pohon di tanah (bukan di pot) terutama pohon-pohon besar yang berakar besar, dalam dan banyak. Sayangnya jumlah lahan terbuka sangat terbatas, terutama di kawasan perumahan. Seringkali penanaman pohon jenis ini di halaman rumah dihindari karena kekuatiran akan kerusakan struktur bangunan akibat penjalaran akarnya. Kalau pohon besar tidak memungkinkan, penanaman pohon tidak terlalu besar seperti pohon buah cangkokan atau pohon hias juga dapat meningkatkan jumlah BIOPORI.

Cara lain adalah dengan membuat Lubang Resapan Biopori pada permukaan tanah. Cara ini sangat sederhana, mudah dan tanpa resiko kerusakan struktur bangunan rumah.

Seperti yang dimuat dalam warta jemaat gki surya utama 8 april 2012

go green Indonesia!

Rabu, 19 Oktober 2011

Sampah organik dan biopori

Beberapa tahun yang lalu di jemaat GKI Surya Utama pernah diperkenalkan istilah biopori. Kemudian ada beberapa bor tanah yang diedarkan untuk membuat lubang resapan biopori di halaman-halaman rumah. Setelah sekian tahun, apakah lubang-lubang ini masih terpelihara?

BIOPORI adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk oleh aktivitas makhluk hidup dalam tanah, seperti pengakaran pohon, cacing tanah, rayap dan makhluk mikro lain. Lubang-lubang ini akan terisi oleh udara dan menjadi tempat berlalunya air. Hal ini membuat tanah subur dan dapat menyerap air. Jumlah biopori dapat ditingkatkan dengan membuat Lubang Resapan Biopori (LRB) dari permukaan tanah. LRB harus diaktifkan dengan memasukkan sampah organik ke dalamnya. Sampah ini menjadi makanan bagi makhluk-makhluk dalam tanah sehingga tetap hidup. Dengan aktifnya makhluk hidup dalam tanah di sekitar LRB, jumlah biopori akan meningkat terus. Dengan demikian LRB dan biopori bersama-sama akan meningkatkan daya serap tanah terhadap air. Sampah yang dimasukkan ke LRB setelah beberapa waktu akan menyusut karena proses pembusukan. Bila tidak diisi lagi, kehidupan di dalamnya juga akan lenyap, akibatnya pembentukan biopori juga akan berhenti. Karena itu LRB harus selalu diisi.

Dalam Aksi Sampah untuk Paska, gereja tidak mengumpulkan sampah organik karena tempatnya ada di LRB-LRB yang sudah dibuat beberapa tahun yang lalu. Mari menghidupkan kembali LRB-LRB di halaman  rumah kita.

pernah dimuat dalam warta jemaat gki surya utama
go green Indonesia!

Rabu, 09 Desember 2009

Kulit pisang dan teman-temannya

KULIT PISANG DAN TEMAN-TEMANNYA

Kulit pisang mungkin salah satu jenis pengisi tempat sampah rumah tangga kita hari ini. Bersama batang dan akar bayam, bonggol jagung, tulang ayam, kulit ari bawang dan nasi basi sisa semalam, kantung plastik sampah sudah penuh. Kantung plastik kemudian diikat dengan rapi supaya tidak ada yang tercecer dan dibawa ke bak sampah di depan rumah. Selesai! Hari ini rumah sudah bersih dari sampah. Setelah itu adalah bagian petugas kebersihan.

Demikian cara berpikir kita selama ini. Dan kita merasa tidak ada masalah yang muncul setelah itu. Masalah hanya muncul satu kali dalam setahun, yaitu saat petugas kebersihan cuti lebaran. Sampah yang menumpuk di bak sampah mulai mengeluarkan bau tidak sedap. Eh… bukan satu kali….. rupanya ada masalah lain. Masalah gara-gara si Bleki, anjing tetangga mengorek-ngorek bak sampah. Duh! Sampah jadi berantakan di jalan!

Lalu bagaimana dengan hujan deras selama 15 menit yang menimbulkan banjir gara-gara saluran tersumbat sampah? Masih ingat tumpukan sampah di Leuwigajah yang longsor beberapa tahun yang lalu? Tentang penyakit gatal-gatal penduduk di sekitar TPA Bantar Gebang? Semuanya berawal dari sampah rumah tangga.

Mengeluarkan sampah dari rumah kita bukan berarti masalah sampah selesai. Beberapa masalah di atas hanyalah beberapa masalah sampah yang nyata. Masalah yang sebetulnya berawal dari masalah dari rumah kita. Artinya kalau kita bisa menyelesaikan masalah sampah sendiri di rumah, kita memperkecil munculnya masalah-masalah di atas.

70% sampah rumah tangga berasal dari dapur, yaitu kulit pisang dan teman-temannya. Sampah jenis ini tergolong sampah organik, artinya dapat hancur sendiri di alam. Yang termasuk sampah organik adalah kulit buah-buahan, batang sayur-mayur, tulang ayam, sapi dan daging lainnya, duri ikan, kulit udang, kulit telur, daun pembungkus makanan, juga sisa makanan basi. Pada prinsipnya, semua sisa bahan pangan digolongkan sebagai sampah organik.

Karena sifatnya yang dapat hancur sendiri di alam, kita dapat mengembalikannya sendiri ke alam, bukan membuangnya ke bak sampah. Dengan memasukkannya ke dalam lubang resapan biopori atau mengolahnya menjadi kompos dalam keranjang takakura, kita telah mengurangi 70% sampah kita. Artinya, kalau biasanya setiap hari kita menciptakan 1 kantong sampah, dengan mengolah sendiri sampah organik kita, sampah kita berkurang menjadi 1 kantong dalam 3 hari.

Selain mengurangi jumlah sampah, tindakan mengembalikan sampah organik ke alam akan memberikan dampak lain. Dengan tidak membiarkan sampah organik menumpuk di tempat terbuka, kita mengurangi pembuangan gas-gas karbondioksida, karbonmonoksida, nitrogen oksida dan metana ke udara yang menimbulkan efek rumah kaca pada bumi kita. Sebaliknya, unsur-unsur karbon dan nitrogen sebagai pembentuk gas-gas tadi akan terserap ke tanah dan memperkaya tanah dan menghidupkan makhluk-makhluk di dalam tanah. Dengan sendirinya tanah menjadi subur dan akan menghasilkan tanaman yang indah.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Ibu Sud, pencipta banyak lagu-lagu anak yang indah dan edukatif, ada baiknya kita melupakan salah satu lagunya : KERANJANG SAMPAH

bila kumakan pisang tidak dengan kulitnya
kulit kulempar k’ranjang
k’ranjang apa namanya?
k’ranjang sampah namanya

agar anak-anak kita tidak lagi dibiasakan membuang kulit pisang ke keranjang sampah, tapi mengembalikannya ke bumi.

go green Indonesia!

Selasa, 01 September 2009

Lubang Resapan Bioporiku setelah 1,5 tahun

Beberapa bulan terakhir, aku kesulitan membuang sampah dapur. Sejumlah Lubang Resapan Biopori (LRB) yang kubuat 1,5 tahun yang lalu di halaman depan pagar sepertinya sudah penuh, tidak dapat diisi lagi. Permukaannya keras, bahkan beberapa LRB telah ditutup dengan tanah karena kupikir tidak bisa memuat sampah lagi.

Sempat beberapa kali aku membuat LRB baru di halaman sebelah dalam pagar. LRB itulah yang terus kuisi selama bulan-bulan terakhir ini. Tapi lama kelamaan penuh juga, dan bila kutambah sampah lagi, aku harus mengaduknya dengan sampah lama, supaya tidak dikorek oleh tikus. Akibatnya, bau sampah lama akan keluar dan perlu waktu beberapa jam untuk menghilangkan baunya.

Sekitar 3 minggu yang lalu, iseng-iseng, aku mengisi salah satu LRB (bekas LRB, tepatnya) di depan pagar dengan air. Air yang kuisi sama sekali tidak menggenang, tapi terus merembes ke dalam dengan mudah. Agak terkejut juga rasanya! Berarti di bawah lapisan keras itu ada rongga! Cukup banyak air yang kumasukkan ke bekas LRB itu. Kemudian aku menusuk lapisan di bagian atas LRB yang sudah tidak terlalu keras lagi.....dan.....bluuusss.... LRB itu menganga lagi.

Hal yang sama kuulangi pada LRB-LRB lain yang telah kubuat 1,5 tahun yang lalu. Hasilnya aku menemukan 7 lubang biopori yang bisa diisi sampah dapur lagi. Kedalamannya sama seperti 1,5 tahun yang lalu! Jadi sampah yang kumasukkan tahun lalu, saat ini telah menyusut.

Kupikir....
Sampah yang dimasukkan ke dalam LRB akan membusuk dan menyusut seiring dengan berjalannya waktu. LRB bukan mesin pembuat kompos, jadi tidak perlu memanen kompos setelah beberapa waktu. Sampah di dalam LRB akan menjadi makanan organisme di dalam tanah dan aktivitas organisme di dalam tanah akan membuat tanah di sekitarnya menjadi subur.

Kupikir....
betul, LRB bisa digunakan untuk mencegah banjir. Bila terus diisi sampah, yang merupakan makanan organisme dalam tanah, organisme dalam tanah akan aktif membuat lubang-lubang halus (biopori) di dalam tanah. Biopori inilah yang menyerap air yang masuk melalui LRB. Kalau aku bisa mengisi lubang biopori dengan air begitu banyak, tentunya air hujan juga akan diserap sama banyaknya. Seandainya setiap rumah di Jakarta ada 4 LRB saja, tentunya musim hujan tidak akan menimbulkan banjir.

go green Indonesia!

Kamis, 17 April 2008

"Jualan" bor tanah

Beberapa waktu yang lalu, Caroline dan beberapa temannya datang ke rumahku untuk melihat Lubang Resapan Biopori yang kubuat. Aku bersemangat sekali untuk memperlihatkan lubang-lubang dan menjelaskan fungsinya. Mereka rupanya memang berminat untuk membuat juga. Mereka telah menghubungi IPB (entah lewat jalur apa) untuk membeli bor tanah. Mereka dapat membelinya dengan harga Rp 125.000 / buah dengan pembelian minimal 50 buah. (Dulu, aku membelinya seharga Rp 185.000 + ongkos kirim) Selain itu, mereka juga akan mendapatkan pelatihan untuk pembuatan LRB. Jadi, saat ini mereka sedang berusaha mengumpulkan 50 calon pembeli bor tanah. Tanpa disuruh, aku langsung berpikir untuk ikut mencari calon pembeli. Dalam beberapa minggu, aku berhasil mengumpulkan 8 orang calon pembeli. Aku jadi makelar...???

Mungkin juga ke-8 orang itu memang berpikir aku ini makelar bor tanah. Ya ampun.... aku ini sebetulnya bukan orang yang berbakat jadi makelar. Berjualan saja tidak bisa! Kalau aku bersemangat mencari calon pembeli bor tanah, itu semata-mata agar makin banyak LRB yang dibuat. Demi keutuhan ciptaan yang sebetulnya sudah terlanjur tidak utuh. Sedih juga waktu ada yang bilang, dulu harganya Rp 90.000,-. Rasanya seperti tersirat tuduhan di dalamnya, bahwa aku mengambil keuntungan dari penjualan bor tanah itu.

Makelar bor tanah yang cari untung...?? Padahal aku hanya menyampaikan informasi,ada kesempatan untuk membeli bor tanah dan dapat pelatihan. Kalau tidak mau beli, ya sudah. Aku juga tidak bicara soal pembayaran ketika menyampaikan informasi itu. Kalau kemudian aku meminta beberapa orang untuk membayar dulu, itu semata-mata karena aku melihat di rumah Caroline sudah ada beberapa bor tanah yang didatangkan. Pengiriman bor rupanya dilakukan secara bertahap. Agar "pesananku" bisa langsung kudapat, aku langsung transfer uang sebesar 1 juta rupiah ke rekening Caroline. Tujuannya supaya pengiriman bor yang berikutnya menjadi bagianku, bagian teman-temanku. Setelah itu, baru aku minta beberapa teman untuk membayar dulu.

Sedihnya lagi... diantara beberapa teman yang membayar, ada yang cuma membayar Rp 120.000,-. Nangis lagi ah...

go green Indonesia!

Senin, 07 April 2008

Lubang Resapan Biopori di halaman rumahku

Beberapa bulan terakhir, volume sampah yang dihasilkan rumahku berkurang drastis. Mestinya iuran sampahku juga dikurangi ya?
Ini berkat LRB (lubang resapan biopori) yang aku buat di halaman rumah. Sementara ini ada 8 lubang. Kedalaman 80 - 100 cm adalah kedalaman yang optimal. Lebih dari itu tidak ada gunanya, karena oksigen sudah sangat tipis, jadi tidak memungkinkan bagi kehidupan. Di atas lubang aku taruh pot tanaman untuk mencegah orang terperosok. Juga mencegah kucing atau anjing ngodal-ngadul isi LRB. Semua sampah dapur (kulit buah, batang sayur yang tidak termakan, ampas kelapa, kulit telur, tulang ikan dan ayam.... pokoknya semua) aku masukkan ke dalam LRB. 1 lubang bisa menampung sampah dapur selama 4-5 hari. Tanpa campuran bahan apa-apa. Kira-kira 1,5 bulan semua lubang penuh.... eh, ternyata engga! Lubang pertama ternyata masih bisa menampung sampah lagi, karena sampah 1,5 bulan yang lalu sudah menyusut kira-kira tinggal 20%. Hasil dekomposisi sampah ini kupakai untuk memupuki tanaman-tanamanku.

Soal bau.... ya, pasti bau. Namanya sampah dapur. Tapi bau itu hanya muncul waktu panen kompos. Selama sampah masih di dalam LRB, baru tidak keluar, terserap oleh tanah. Mungkin juga karena panen dilakukan waktu masih musim penghujan. Sampah dalam LRB bercampur air, jadi bau. Bau hanya muncul waktu panen, karena dikeluarkan dari tanah. Tindakanku ini memang seperti menabur garam di air laut, hampir ga ada artinya, terlalu kecil. Mudah-mudahan postingku ini menggugah kesadaran pembaca tentang peran kita terhadap masa depan bumi kita. Kalau seluruh semua pembaca tertarik untuk membuat LRB di rumahnya, terus bisa menggugah tetangga-tetangganya... kenalan-kenalannya .... jadinya banyak juga. Pasti akan bermakna juga.

go green Indonesia!

Jumat, 04 April 2008

Biopori dan Lubang Resapan Biopori

BIOPORI adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk oleh aktivitas makhluk hidup dalam tanah, seperti pengakaran pohon, cacing tanah, rayap dan makhluk mikro lain. Lubang-lubang ini akan terisi oleh udara dan menjadi tempat berlalunya air. Hal ini membuat tanah subur dan meningkatkan daya serap tanah terhadap air. Makin banyak biopori, makin besar air yang dapat diserap tanah.

Makin banyaknya tanah di Jakarta yang ditutupi bangunan beton, maka daya tampung tanah terhadap air makin berkurang. Daya serap tanah Jakarta terhadap air nyaris tidak ada. Karena itu air hujan hampir seluruhnya mengalir ke laut, pakai antre lagi! Jadi banjir. Sedikit sekali yang menyerap ke tanah, karena itu jumlah air tanahpun makin menyusut. Akibatnya intrusi air laut ke air tanah Jakarta. Air sumur jadi payau bahkan asin.

Bila biopori dibuat lebih banyak, daya serap tanah Jakarta dapat ditingkatkan. Sehingga jumlah air yang mengalir di permukaan tanah berkurang. Bila semua rumah di Jakarta , mudah-mudahan banjir dapat dikurangi. Bagaimana cara menambah jumlah biopori?

Ada teknologi yang dikembangkan oleh Fakultas Pertanian IPB untuk meningkatkan jumlah biopori, yaitu dengan membuat Lubang Resapan Biopori (LRB). Lubang ini dapat dibuat di tanah, di dasar saluran yang semula digunakan untuk mengalirkan air hujan, bahkan di tempat yang sudah dicor semen. Lubang dibuat dengan diameter 10 cm sedalam 80 - 100 cm. Ada bor tanah yang dapat dioperasikan dengan mudah. Gambarnya terlampir. Untuk membuat 1 LRB dengan tenaga perempuan diperlukan waktu kira-kira 10-20 menit, tergantung kekerasan tanah.

LRB akan menampung air hujan, sehingga lebih banyak yang diserap tanah. LRB dapat diaktifkan dengan memasukkan sampah organik ke dalamnya. Sampah ini menjadi makanan bagi makhluk-makhluk dalam tanah sehingga tetap hidup. Sampah akan di-dekomposisi dan hasilnya adalah pupuk kompos. Dengan aktifnya makhluk hidup dalam tanah di sekitar LRB, maka jumlah biopori akan meningkat terus.
Dengan demikian LRB dan biopori bersama-sama akan meningkatkan daya serap tanah terhadap air.

Dengan memasukkan sampah ke dalam LRB, produk gas yang membentuk efek rumah kaca akan berkurang. Dengan demikian, selain bermanfaat mengurangi resiko banjir, pembuatan LRB ini mengurangi pemanasan global. Efek lainnya, jumlah genangan air juga berkurang. Hal ini secara tidak langsung akan mengurangi resiko penyebaran penyakit demam berdarah, malaria dan kaki gajah.

Lihat juga :
Biopori, teknologi tepat guna ramah lingkungan
Biopori menurut Om Wiki

Biopori dalam blog :
Biopori di halaman rumah
Diani Budiarto : Memperbanyak sumur biopori
Abusya : Biopori untuk bumi kita
Agastya Candrawan : Biopori, tips langkah kecil menyelamatkan bumi
Anak cucu : Biopori yang anti banjir
Anak cucu : Biopori
ALL ABOUT DINA : Dengan biopori, s'lamatkan Bandung dari...
Blog gue : Biopori
Biopori menopang kehidupan tanah
Biopori agaenst banjir kanal
Yagitudeh : Biopori
Sampah diolah menjadi berkah : Pengomposan anaerob berbau busuk
Hati beriman : Kecil lubangnya besar manfaat
Ikankoi : Mencegah banjir lewat lubang serapan biopori
John Herf : Biopori sebagai peresap air yang mengatasi banjir dan sampah
BROKENEARTH : Kamir R. Brata Penemu teknologi biopori
Marumpa : Ada kompos dan lubang biopori di musrenbang
For the beauty of this earth : Lubang biopori bisa cegah banjir
Wastumaya : Arsitek, pakailah biopori

go green Indonesia!