Tampilkan postingan dengan label kompos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kompos. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2012

Lubang Resapan Biopori, manfaatnya bagi ibu bumi



Tujuan pembuatan LRB adalah meningkatkan daya serap tanah akan air. Jika jumlahnya banyak akan mampu mengurangi potensi banjir. Bila LRB berfungsi dengan baik, ada beberapa manfaat tambahan bagi kelestarian bumi, yaitu :
  1.  Mengurangi resiko penyebaran penyakit-penyakit akibat gigitan nyamuk seperti demam berdarah, chikungunya, malaria dan kaki gajah karena  jumlah genangan air juga berkurang
  2. Mengurangi volume sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga. 
  3. Mengurangi masalah perkotaan yang ditimbulkan oleh sampah 
  4.  Mengurangi emisi gas pembentuk efek rumah kaca yang dihasilkan oleh tumpukan sampah di atas tanah. 
  5. Tanah di sekitar LRB menjadi subur akibat aktivitas makhluk-makhluk hidup di dalam tanah.
Seperti yang akan dimual dalam warta jemaat gki surya utama 6 mei 2012 (dengan sedikit perubahan) go green Indonesia!

Pemeliharaan Lubang Resapan Biopori



Satu-satunya cara memelihara LRB-LRB yang sudah dibuat adalah dengan mengisinya dengan sampah organik. LRB baru berfungsi sesuai namanya sebagai resapan biopori bila diisi oleh sampah organik.  Sampah organik adalah semua jenis sampah yang dapat membusuk, seperti rumput, daun kering, kulit buah, batang sayur yang tidak termakan, ampas kelapa, sisa makanan. Sampah ini akan dicerna oleh makhluk-makhluk hidup di dalam tanah, sehingga lama kelamaan akan menyusut.  Setelah isi menyusut, LRB harus diisi sampah lagi.  Artinya selama penghuni rumah masih beraktivitas, sampah organik akan terus diproduksi dan LRB tidak akan pernah kosong.

Untuk mencegah tikus, kucing atau anjing mengais-ngais isi LRB, pengisian sampah ke dalam lubang sebaiknya sampai 10 cm di bawah permukaan tanah.  Selain itu, sampah daging, tulang dan unsur-unsur hewan lainnya sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam LRB.

Jenis sampah organik lain yang sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam LRB adalah biji buah-buahan dan batang tanaman yang berakar, karena berpotensi tumbuh menjadi tanaman. Tanaman dari biji-bijian ini akan tumbuh tidak terkendali dan merusak keindahan pekarangan.

Bila jumlah sampah organik lebih besar daripada daya tampung LRB, proses pembusukan dapat dipercepat dengan memasukkan mikro organisme ke dalam LRB. Ada banyak sumber mikro organisme yang dapat membantu proses pembusukan, di antaranya air tape, nasi basi, bonggol pisang, tempe dan makanan fermentasi lainnya. 

Seperti yang dimuat dalam warta jemaat gki surya utama 29 april 2012
go green Indonesia!

Mari membuat Lubang Resapan Biopori




Bila di rumah Anda belum ada LRB, Anda dapat membuatnya sendiri. Pembuatan LRB bukanlah hal yang sulit. Dengan menggunakan bor tanah, satu lubang dapat dibuat dalam waktu 10 sampai 20 menit, tergantung kekerasan tanah. Ada beberapa bor tanah di gereja yang dapat dipinjam untuk membuat LRB-LRB.
Lubang dapat dibuat di pekarangan, di dasar saluran air buangan, bahkan di tempat yang sudah dicor semen. Bila ada perbedaan tinggi tanah, LRB dibuat di bagian paling rendah agar air dapat mengalir masuk kedalam lubang. Jarak antar lubang sekitar 3 hingga 4 meter.

Disain bor tanah dibuat sedemikian rupa sehingga dapat membuat lubang berdiameter 10 cm. Mata bor terdiri atas 2 buah pisau yang ujung-ujungnya menyatu membentuk lubang berbentuk seperti mata. LRB dibuat dengan cara memutar bor tanah searah jarum jam.  Bila bor diputar di dalam tanah, kedua pisau ini akan mengeruk tanah yang dilalui dan tanah hasil kerukan akan berkumpul di tengah-tengah lubang mata bor. Setiap kali tanah yang terkeruk ini harus dilepaskan supaya mata pisau dapat mengambil tanah lagi hingga mencapai kedalaman 80 - 100 cm. Lebih dalam dari itu tidak ada gunanya, karena oksigen sudah sangat tipis, jadi tidak memungkinkan bagi kehidupan. 

Agar tanah di sekitar lubang tidak longsor, sekeliling tepi lubang disemen. Di atas lubang bisa diletakkan  pot tanaman untuk mencegah orang terperosok. Pot ini juga berfungsi untuk mencegah kucing atau anjing mengais-ngais  isi LRB. 

Seperti yang dimual dalam warta jemaat gki surya utama 22 april 2012
go green Indonesia!

Lubang Resapan Biopori.... apa kabarnya?



Seperti yang ditulis di tulisan sebelum ini, biopori adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk oleh aktivitas makhluk hidup dalam tanah. Lubang-lubang ini akan terisi oleh udara dan menjadi tempat berlalunya air sehingga meningkatkan daya serap tanah terhadap air.  Salah satu cara untuk meningkatkan jumlah biopori adalah dengan membuat LRB pada permukaan tanah untuk meningkatkan jumlah biopori dalam tanah.

Beberapa tahun belakangan ini, banyak acara digelar dengan label "go green". Salah satu kegiatan di dalamnya adalah pembuatan LRB.Artinya sudah banyak LRB yang dibuat. Lubang-lubang ini baru dapat berfungsi sebagai resapan biopori jika diisi dengan sampah organik. Sampah ini menjadi makanan bagi makhluk-makhluk dalam tanah sehingga tetap hidup dan aktif bergerak membuat lubang-lubang kecil disekitar LRB. Dengan aktifnya makhluk hidup dalam tanah di sekitar LRB, maka jumlah biopori akan meningkat terus. Dengan demikian LRB dan biopori bersama-sama akan meningkatkan daya serap tanah terhadap air.

Mudah-mudahan pembuatan LRB-LRB selama ini bukan sekedar kegiatan seremonial belaka dan tidak dilanjutkan dengan menghidupkan LRB. Apakah LRB-LRB di rumah Anda masih terus diisi sampah? 

Seperti yang dimuat dalam warta jemaat gki surya utama 15 april 2012 (dengan penyesuaian)
go green Indonesia!

BIOPORI , sekedar mengingatkan lagi

Makin banyaknya tanah di Jakarta yang ditutupi bangunan beton menyebabkan daya tampung tanah terhadap air makin berkurang. Daya serap tanah Jakarta terhadap air nyaris tidak ada, karena itu air hujan hampir seluruhnya mengalir ke laut. Daya tampung sungai dan kanal-kanal banjir yang penuh sampah kalah besar dibandingkan jumlah air hujan yang harus dialirkan, sehingga kelebihan air membanjiri kota. Penurunan daya serap tanah terhadap air menyebabkan jumlah air tanah makin menyusut. Akibatnya air laut menyusup ke dalam air tanah Jakarta. Air sumur jadi payau bahkan asin.

Salah satu cara untuk meningkatkan daya serap tanah terhadap air adalah dengan menambah jumlah BIOPORI pada tanah. BIOPORI adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk oleh aktivitas makhluk hidup dalam tanah, seperti pengakaran pohon, cacing tanah, rayap, tikus, serangga, keong dan makhluk-makhluk kecil lain. Lubang-lubang ini akan terisi oleh udara dan menjadi tempat berlalunya air. Hal ini membuat tanah gembur dan meningkatkan daya serap tanah terhadap air. Makin banyak biopori, makin besar air yang dapat diserap tanah.

Jumlah BIOPORI dapat diperbanyak dengan menanam pohon-pohon di tanah (bukan di pot) terutama pohon-pohon besar yang berakar besar, dalam dan banyak. Sayangnya jumlah lahan terbuka sangat terbatas, terutama di kawasan perumahan. Seringkali penanaman pohon jenis ini di halaman rumah dihindari karena kekuatiran akan kerusakan struktur bangunan akibat penjalaran akarnya. Kalau pohon besar tidak memungkinkan, penanaman pohon tidak terlalu besar seperti pohon buah cangkokan atau pohon hias juga dapat meningkatkan jumlah BIOPORI.

Cara lain adalah dengan membuat Lubang Resapan Biopori pada permukaan tanah. Cara ini sangat sederhana, mudah dan tanpa resiko kerusakan struktur bangunan rumah.

Seperti yang dimuat dalam warta jemaat gki surya utama 8 april 2012

go green Indonesia!

Jumat, 10 Desember 2010

Belajar mengelola sampah dari Takakura lagi

Beberapa hari yang lalu, aku panen kompos lagi. Panen yang ditunda-tunda karena malas...hehehe.... Sebetulnya keranjang takakura-ku sudah dua kali penuh. Maksudnya, sudah ada 2 keranjang takakura yang kuisi dengan sampah dapurku. Berminggu-minggu kedua takakura-ku kudiamkan, tak kuisi (karena sudah penuh), tak kuaduk, tak kubuka. Sementara sampah dapur kumasukkan ke LRB-LRB biopori dan komposter yang dapat menghasilkan pupuk cair. Lalau semua "tempat sampah" itu penuh.... yah.... mau tidak mau, aku harus memanen kompos dari takakura-ku.


Kejutan! Ternyata kompos sudah jadi, tidak berbau dan bebas belatung! Rupanya dengan mendiamkannya selama 1 hingga 2 bulan setelah kompos matang, belatung-belatung raksasa, salah satu produk tambahan yang kutemukan saat panen yang lalu, menjadi mati.

Pelajaran dari keranjang takakura kemarin :
  1. Tidak perlu buru-buru memanen takakura.
  2. Buat lebih dari satu keranjang takakura untuk menambah "nutrisi" kompos berupa protein yang berasal dari belatung.
go green Indonesia!

Jumat, 15 Januari 2010

TAKAKURA, SARANA BELAJAR TENTANG SAMPAH



Sudah 2 kali aku melakukan panen kompos dari keranjang Takakura-ku. Setelah beberapa bulan bergaul dengan Takakura, aku mendapat beberapa pelajaran tentang sampah. Berikut ini adalah kesaksianku mengolah sampah dengan keranjang Takakura.

Proses pembusukan

Proses pembusukan sampah dalam keranjang Takakura berlangsung cepat, karena bercampur dengan starter yang jumlahnya lebih banyak dibanding jumlah sampah. Bahan-bahan yang tidak terlalu keras seperti kulit pisang atau papaya dapat membusuk dalam 1 hari. Bahan-bahan lain yang lebih keras membusuk sekitar 2 sampai 3 hari setelah dimasukkan.

Yang menjadi petunjuk terjadinya proses pembusukan adalah udara yang terasa hangat di atas tumpukan sampah pada saat keranjang dibuka. Bila terlalu basah, biasanya tidak terasa hangat. Untuk mengatasinya cukup dengan menambahkan sekam atau serutan kayu ke dalam sampah. Untungnya, hingga saat ini aku masih bisa mendapatkan sekam gratis dari pedagang telur di pasar.

Karena berbentuk keranjang, lubang-lubang yang ada memungkinkan terjadinya sirkulasi udara yang baik di dalam keranjang. Banyak oksigen yang masuk, sehingga bakteri pembusuk yang hidup di dalamnya adalah bakteri aerob (bakteri yang hidup dalam lingkungan yang mengandung oksigen). Bakteri aerob tidak menimbulkan bau, sehingga sampah yang membusuk tidak mengeluarkan bau. Tidak cukup dengan mengandalkan lubang-lubang di keranjang, sampah di dalamnyapun harus diaduk-aduk setiap hari supaya udara dapat masuk ke bagian bawah.

Perawatan keranjang

Saat jumlah sampah yang dimasukkan ke dalam keranjang semakin banyak, kadangkala kelembaban sulit terkontrol, terutama di bagian bawah. Hal ini disebabkan karena sekop pangaduk tidak dapat mencapai dasar kardus, padahal salah satu sifat air adalah mencari tempat yang lebih rendah. Aku menyimpulkan , pada kondisi inilah bantalan sekam menjalankan perannya, yaitu menyerap tetesan air. Karena itu bantalan sekam tidak boleh tanggung-tanggung kepadatannya. Makin jarang isinya, makin cepat kardus harus diganti. Kalau bantalan sekam sudah jenuh air, maka air yang berwarna kecoklatan menetes ke bawah keranjang. Entah ada hubungannya atau tidak, pada saat yang bersamaan mulai banyak semut yang menghampiri keranjang. Selain itu, kardus yang dipakai untuk wadah sampah menjadi basah dan lama kelamaan hancur. Inilah tanda bagiku untuk memanen kompos dan mengganti kardus. Membiarkan kondisi seperti ini lebih lama lagi akan membuat keranjang Takakura tak ada bedanya dengan tempat sampah biasa yang menumpuk ketika tukang sampah libur beberapa hari.

Produk tambahan

Ada produk tambahan selain pupuk kompos yang dihasilkan dalam keranjang Takakura, yaitu belatung. Menurutku, hal ini tidak terhindarkan, karena lalat-lalat kecil dapat masuk melalui lubang-lubang keranjang. Selain itu, sampah sudah mengandung telur-telur serangga sebelum dimasukkan ke dalam keranjang. Panas yang ditimbulkan dalam proses pembusukan tidak cukup tinggi untuk mematikan belatung-belatung ini.
Karena berada di lumbung makanan, belatung-belatung ini dapat tumbuh menjadi sangat besar, hingga mencapai ukuran 1,5 cm atau 2 cm. Ada juga yang sudah bermetamorfosis menjadi lalat bongsor. Mungkin karena pertumbuhan yang tidak normal, untungnya, lalat-lalat ini tidak mampu terbang bahkan setelah berjalan beberapa sentimeter, langsung mati. Aku menyiasati belatung-belatung ini dengan cara memasukkan panenan kompos ke dalam kantung plastik dan mengikatnya erat-erat selama beberapa hari , sebelum dijemur. Akibatnya belatung-belatung menjadi teler dan mudah dimatikan, bahkan ada yang mati sendiri. Mayat-mayat belatung kucampurkan ke dalam pupuk dan menjadi sumber zat hara tersendiri bagi kompos.

Produk tambahan lain adalah gulma. Dulu aku mengira biji-biji melon akan membusuk dan mati bila dimasukkan ke dalam keranjang. Ternyata tidak. Begitu dipanen, sebagian kompos langsung kumasukkan ke dalam pot-pot adeniumku. Dalam beberapa hari, muncul kecambah-kecambah di pot-pot tersebut. Rupanya biji-biji melon itu masih hidup. Selanjutnya aku tidak lagi memasukkan biji melon dan biji buah lain ke dalam keranjang.

Tidak seperti yang ada di teori, keranjang Takakura di rumahku tidak bisa menunggu hingga 3 bulan untuk dipanen. Sekitar 2 bulan, keranjang sudah penuh atau kardus sudah hancur karena basah. Sebentar lagi aku akan melakukan panen kompos ketiga, sementara hasil panen yang lalu belum bisa disimpan di tempat yang rapat karena masih basah. Saat ini masih musim hujan, jarang ada kesempatan untuk menjemur kompos hingga benar-benar kering. Ada yang butuh kompos?


go green Indonesia!