Tampilkan postingan dengan label keranjang Takakura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keranjang Takakura. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Desember 2010

Belajar mengelola sampah dari Takakura lagi

Beberapa hari yang lalu, aku panen kompos lagi. Panen yang ditunda-tunda karena malas...hehehe.... Sebetulnya keranjang takakura-ku sudah dua kali penuh. Maksudnya, sudah ada 2 keranjang takakura yang kuisi dengan sampah dapurku. Berminggu-minggu kedua takakura-ku kudiamkan, tak kuisi (karena sudah penuh), tak kuaduk, tak kubuka. Sementara sampah dapur kumasukkan ke LRB-LRB biopori dan komposter yang dapat menghasilkan pupuk cair. Lalau semua "tempat sampah" itu penuh.... yah.... mau tidak mau, aku harus memanen kompos dari takakura-ku.


Kejutan! Ternyata kompos sudah jadi, tidak berbau dan bebas belatung! Rupanya dengan mendiamkannya selama 1 hingga 2 bulan setelah kompos matang, belatung-belatung raksasa, salah satu produk tambahan yang kutemukan saat panen yang lalu, menjadi mati.

Pelajaran dari keranjang takakura kemarin :
  1. Tidak perlu buru-buru memanen takakura.
  2. Buat lebih dari satu keranjang takakura untuk menambah "nutrisi" kompos berupa protein yang berasal dari belatung.
go green Indonesia!

Jumat, 15 Januari 2010

TAKAKURA, SARANA BELAJAR TENTANG SAMPAH



Sudah 2 kali aku melakukan panen kompos dari keranjang Takakura-ku. Setelah beberapa bulan bergaul dengan Takakura, aku mendapat beberapa pelajaran tentang sampah. Berikut ini adalah kesaksianku mengolah sampah dengan keranjang Takakura.

Proses pembusukan

Proses pembusukan sampah dalam keranjang Takakura berlangsung cepat, karena bercampur dengan starter yang jumlahnya lebih banyak dibanding jumlah sampah. Bahan-bahan yang tidak terlalu keras seperti kulit pisang atau papaya dapat membusuk dalam 1 hari. Bahan-bahan lain yang lebih keras membusuk sekitar 2 sampai 3 hari setelah dimasukkan.

Yang menjadi petunjuk terjadinya proses pembusukan adalah udara yang terasa hangat di atas tumpukan sampah pada saat keranjang dibuka. Bila terlalu basah, biasanya tidak terasa hangat. Untuk mengatasinya cukup dengan menambahkan sekam atau serutan kayu ke dalam sampah. Untungnya, hingga saat ini aku masih bisa mendapatkan sekam gratis dari pedagang telur di pasar.

Karena berbentuk keranjang, lubang-lubang yang ada memungkinkan terjadinya sirkulasi udara yang baik di dalam keranjang. Banyak oksigen yang masuk, sehingga bakteri pembusuk yang hidup di dalamnya adalah bakteri aerob (bakteri yang hidup dalam lingkungan yang mengandung oksigen). Bakteri aerob tidak menimbulkan bau, sehingga sampah yang membusuk tidak mengeluarkan bau. Tidak cukup dengan mengandalkan lubang-lubang di keranjang, sampah di dalamnyapun harus diaduk-aduk setiap hari supaya udara dapat masuk ke bagian bawah.

Perawatan keranjang

Saat jumlah sampah yang dimasukkan ke dalam keranjang semakin banyak, kadangkala kelembaban sulit terkontrol, terutama di bagian bawah. Hal ini disebabkan karena sekop pangaduk tidak dapat mencapai dasar kardus, padahal salah satu sifat air adalah mencari tempat yang lebih rendah. Aku menyimpulkan , pada kondisi inilah bantalan sekam menjalankan perannya, yaitu menyerap tetesan air. Karena itu bantalan sekam tidak boleh tanggung-tanggung kepadatannya. Makin jarang isinya, makin cepat kardus harus diganti. Kalau bantalan sekam sudah jenuh air, maka air yang berwarna kecoklatan menetes ke bawah keranjang. Entah ada hubungannya atau tidak, pada saat yang bersamaan mulai banyak semut yang menghampiri keranjang. Selain itu, kardus yang dipakai untuk wadah sampah menjadi basah dan lama kelamaan hancur. Inilah tanda bagiku untuk memanen kompos dan mengganti kardus. Membiarkan kondisi seperti ini lebih lama lagi akan membuat keranjang Takakura tak ada bedanya dengan tempat sampah biasa yang menumpuk ketika tukang sampah libur beberapa hari.

Produk tambahan

Ada produk tambahan selain pupuk kompos yang dihasilkan dalam keranjang Takakura, yaitu belatung. Menurutku, hal ini tidak terhindarkan, karena lalat-lalat kecil dapat masuk melalui lubang-lubang keranjang. Selain itu, sampah sudah mengandung telur-telur serangga sebelum dimasukkan ke dalam keranjang. Panas yang ditimbulkan dalam proses pembusukan tidak cukup tinggi untuk mematikan belatung-belatung ini.
Karena berada di lumbung makanan, belatung-belatung ini dapat tumbuh menjadi sangat besar, hingga mencapai ukuran 1,5 cm atau 2 cm. Ada juga yang sudah bermetamorfosis menjadi lalat bongsor. Mungkin karena pertumbuhan yang tidak normal, untungnya, lalat-lalat ini tidak mampu terbang bahkan setelah berjalan beberapa sentimeter, langsung mati. Aku menyiasati belatung-belatung ini dengan cara memasukkan panenan kompos ke dalam kantung plastik dan mengikatnya erat-erat selama beberapa hari , sebelum dijemur. Akibatnya belatung-belatung menjadi teler dan mudah dimatikan, bahkan ada yang mati sendiri. Mayat-mayat belatung kucampurkan ke dalam pupuk dan menjadi sumber zat hara tersendiri bagi kompos.

Produk tambahan lain adalah gulma. Dulu aku mengira biji-biji melon akan membusuk dan mati bila dimasukkan ke dalam keranjang. Ternyata tidak. Begitu dipanen, sebagian kompos langsung kumasukkan ke dalam pot-pot adeniumku. Dalam beberapa hari, muncul kecambah-kecambah di pot-pot tersebut. Rupanya biji-biji melon itu masih hidup. Selanjutnya aku tidak lagi memasukkan biji melon dan biji buah lain ke dalam keranjang.

Tidak seperti yang ada di teori, keranjang Takakura di rumahku tidak bisa menunggu hingga 3 bulan untuk dipanen. Sekitar 2 bulan, keranjang sudah penuh atau kardus sudah hancur karena basah. Sebentar lagi aku akan melakukan panen kompos ketiga, sementara hasil panen yang lalu belum bisa disimpan di tempat yang rapat karena masih basah. Saat ini masih musim hujan, jarang ada kesempatan untuk menjemur kompos hingga benar-benar kering. Ada yang butuh kompos?


go green Indonesia!

Rabu, 09 Desember 2009

Kulit pisang dan teman-temannya

KULIT PISANG DAN TEMAN-TEMANNYA

Kulit pisang mungkin salah satu jenis pengisi tempat sampah rumah tangga kita hari ini. Bersama batang dan akar bayam, bonggol jagung, tulang ayam, kulit ari bawang dan nasi basi sisa semalam, kantung plastik sampah sudah penuh. Kantung plastik kemudian diikat dengan rapi supaya tidak ada yang tercecer dan dibawa ke bak sampah di depan rumah. Selesai! Hari ini rumah sudah bersih dari sampah. Setelah itu adalah bagian petugas kebersihan.

Demikian cara berpikir kita selama ini. Dan kita merasa tidak ada masalah yang muncul setelah itu. Masalah hanya muncul satu kali dalam setahun, yaitu saat petugas kebersihan cuti lebaran. Sampah yang menumpuk di bak sampah mulai mengeluarkan bau tidak sedap. Eh… bukan satu kali….. rupanya ada masalah lain. Masalah gara-gara si Bleki, anjing tetangga mengorek-ngorek bak sampah. Duh! Sampah jadi berantakan di jalan!

Lalu bagaimana dengan hujan deras selama 15 menit yang menimbulkan banjir gara-gara saluran tersumbat sampah? Masih ingat tumpukan sampah di Leuwigajah yang longsor beberapa tahun yang lalu? Tentang penyakit gatal-gatal penduduk di sekitar TPA Bantar Gebang? Semuanya berawal dari sampah rumah tangga.

Mengeluarkan sampah dari rumah kita bukan berarti masalah sampah selesai. Beberapa masalah di atas hanyalah beberapa masalah sampah yang nyata. Masalah yang sebetulnya berawal dari masalah dari rumah kita. Artinya kalau kita bisa menyelesaikan masalah sampah sendiri di rumah, kita memperkecil munculnya masalah-masalah di atas.

70% sampah rumah tangga berasal dari dapur, yaitu kulit pisang dan teman-temannya. Sampah jenis ini tergolong sampah organik, artinya dapat hancur sendiri di alam. Yang termasuk sampah organik adalah kulit buah-buahan, batang sayur-mayur, tulang ayam, sapi dan daging lainnya, duri ikan, kulit udang, kulit telur, daun pembungkus makanan, juga sisa makanan basi. Pada prinsipnya, semua sisa bahan pangan digolongkan sebagai sampah organik.

Karena sifatnya yang dapat hancur sendiri di alam, kita dapat mengembalikannya sendiri ke alam, bukan membuangnya ke bak sampah. Dengan memasukkannya ke dalam lubang resapan biopori atau mengolahnya menjadi kompos dalam keranjang takakura, kita telah mengurangi 70% sampah kita. Artinya, kalau biasanya setiap hari kita menciptakan 1 kantong sampah, dengan mengolah sendiri sampah organik kita, sampah kita berkurang menjadi 1 kantong dalam 3 hari.

Selain mengurangi jumlah sampah, tindakan mengembalikan sampah organik ke alam akan memberikan dampak lain. Dengan tidak membiarkan sampah organik menumpuk di tempat terbuka, kita mengurangi pembuangan gas-gas karbondioksida, karbonmonoksida, nitrogen oksida dan metana ke udara yang menimbulkan efek rumah kaca pada bumi kita. Sebaliknya, unsur-unsur karbon dan nitrogen sebagai pembentuk gas-gas tadi akan terserap ke tanah dan memperkaya tanah dan menghidupkan makhluk-makhluk di dalam tanah. Dengan sendirinya tanah menjadi subur dan akan menghasilkan tanaman yang indah.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Ibu Sud, pencipta banyak lagu-lagu anak yang indah dan edukatif, ada baiknya kita melupakan salah satu lagunya : KERANJANG SAMPAH

bila kumakan pisang tidak dengan kulitnya
kulit kulempar k’ranjang
k’ranjang apa namanya?
k’ranjang sampah namanya

agar anak-anak kita tidak lagi dibiasakan membuang kulit pisang ke keranjang sampah, tapi mengembalikannya ke bumi.

go green Indonesia!

Selasa, 01 September 2009

Keranjang Takakura, cara cepat dan bersih membuat kompos rumah tangga

Saat aku kewalahan dengan penuhnya beberapa Lubang Resapan Biopori (LRB) oleh sampah dapurku, aku membuka-buka lagi situs-situs web tentang mengolah sampah yang sempat kusimpan di bookmark yahoo websiteku. Kutemukan manual TAKAKURA . Petunjuk di file ini betul-betul jelas, sehingga mudah diikuti.

Singkatnya, keranjang Takakura adalah alat yang diciptakan oleh seorang berkebangsaan Jepang bernama Koji Takakura untuk mengkompos sampah organik skala rumah tangga. Proses pengomposan dengan keranjang Takakura tidak menimbulkan bau, tidak mengeluarkan air lindi yang mengotori daerah di sekitar keranjang. Karena bersih dan tidak berbau, keranjang Takakura dapat diletakkan di dalam rumah.

Keranjang Takakura terdiri atas beberapa bagian, yaitu keranjang bertutup (bisa menggunakan laundry box), kardus bekas mi instan atau air minum dalam kemasan, bantalan sekam, kain penutup dan starter kompos yang terdiri atas campuran kompos jadi, sekam dan serutan kayu.

Starter kompos diisikan ke dalam kardus, yang sudah diberi lubang-lubang untuk sirkulasi udara, setinggi 2/3 tinggi kardus. Pada dasar keranjang diletakkan bantalan sekam untuk mencegah lalat masuk dan bertelur di dalamnya. Kemudian di atasnya diletakkan kardus berisi starter kompos. Di atas starter kompos diletakkan lagi bantalan sekam. Lalu ditutup selembar kain, baru kemudian keranjang ditutup. Keranjang diletakkan di atas batu-bata untuk sirkulasi udara di bawah keranjang.

Pengomposan di dalam keranjang ini terjadi secara aerob, karena itu harus ada sirkulasi udara segar. Sampah dapur dimasukkan ke dalam kardus dan diaduk menjadi satu dengan starter. Yang menjadi penanda bahwa pengomposan terjadi adalah hangatnya campuran sampah dan starter. Campuran ini harus mengandung 30% air, jadi tidak boleh terlalu kering, tidak boleh terlalu basah.

Proses pengomposan berlangsung cepat. Jadi meskipun ruang yang tersedia hanya 1/3 kardus, ruangan ini baru akan penuh setelah 3 bulan dengan pengisian sampah dapur 1 kg perhari.

Saat ini, aku membuang sampah dapur yang agak keras, seperti bonggol jagung, bonggol sisir pisang dan tulang ikan ke LRB. Sedangkan sampah dapur lainya, setelah dipotong kecil-kecil (kebiasaan memotong sampah dapur menjadi kecil-kecil sudah kulakukan selama 1,5 tahun ini agar sampah mudah dimasukkan ke dalam LRB), kumasukkan ke dalam keranjang Takakura.

Keranjang Takakuraku sudah berumur 1 minggu. Selama ini, setiap hari aku memeriksa kehangatannya dan kelembabannya, kondisinya baik terus. Mudah-mudahan proyekku kali ini berhasil.


go green Indonesia!