Tampilkan postingan dengan label diet karbon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diet karbon. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2011

Diet rendah karbon 3

Diet rendah karbon dapat dilakukan di dapur. Berikut ini adalah fakta tentang jejak karbon di dapur :
  • Makin rumit proses pemasakan, makin besar jejak karbon yang kita tinggalkan. 
  • Memasak dalam jumlah banyak sekaligus menggunakan bahan bakar yang tidak berbeda jauh dibanding memasak dalam jumlah sedikit.
  • Makin jauh lokasi pertanian, perkebunan dan peternakan asal bahan mentah makanan dari tempat kita tinggal, makin besar jejak karbon akibat pengangkutan yang menggunakan bahan bakar fosil. 
  • Pertanian memerlukan pupuk yang diproduksi oleh pabrik yang berada di tempat yang jauh juga. Lagi-lagi, diperlukan bahan bakar fosil untuk mengoperasikan pabrik pupuk dan mengangkut pupuk ke lokasi pertanian. 
  • Pertanian organik tidak tergantung pada keberadaan pabrik pupuk sintetis, sehingga jejak karbonnya rendah.
 
Tips :
  1. Kurangi masakan yang memerlukan proses pemasakan panjang 
  2. Bila hanya diperlukan porsi kecil, lebih baik membeli makanan matang daripada memasak 
  3. Pilihlah sumber protein daging yang tidak memerlukan proses pemasakan terlalu lama 
  4. Pilihlah beras, sayur dan buah lokal 
  5. Pilihlah beras, sayur dan buah organik 
  6. Gunakan halaman rumah untuk menanam sayur dan pohon buah-buahan 
 pernah dimuat dalam warta jemaat gki surya utama

 go green Indonesia!

Diet rendah karbon 2

Hingga saat ini, seluruh kendaraan bermotor di Indonesia masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energi. Jumlah penumpang yang dapat diangkut oleh sebuah bis adalah 72 orang. Jumlah penumpang yang sama memerlukan 60 buah sepeda motor atau 40 buah mobil. Bila emisi yang dihasilkan untuk menempuh 1 kilometer perjalanan diperbandingkan, penumpang mobil memiliki jejak karbon yang paling tinggi.

Pertimbangkan lebih dahulu rencana bepergian untuk menentukan perlu tidaknya membawa kendaraan bermotor. Ada pilihan-pilihan sarana transportasi lain selain membawa sendiri kendaraan bermotor. Kalau jarak yang akan ditempuh tidak terlalu jauh , tidak perlu berkendaraan. Pergi ke pasar atau toko dekat rumah, dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau bersepeda. Untuk menempuh jarak jauh, selain sepeda yang sekarang mulai populer, angkutan massal juga bisa menjadi pilihan. Pilihan lain adalah nebeng. Jumlah emisi yang dikeluarkan oleh mobil berpenumpang satu adalah sama dengan berpenumpang 4 atau 6. Nebeng bukanlah hal yang memalukan, tapi gaya hidup bersahabat dengan lingkungan.

pernah dimuat dalam warta jemaat gki surya utama
go green Indonesia!

Diet rendah karbon 1

Sudah banyak orang mengenal istilah diet rendah kalori, diet rendah lemak , diet rendah gula maupun diet tinggi serat dan menjadikannya sebagai gaya hidup sehatnya. Semuanya merujuk pada pola makan sehat untuk menghindari penyakit-penyakit degeneratif. Bagaimana dengan diet rendah karbon?

Yang dihitung dalam diet rendah karbon adalah emisi gas rumah kaca yang kita hasilkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar pembentuk gas rumah kaca yang menyebabkan peningkatan suhu permukaan bumi saat ini adalah senyawa yang mengandung karbon. Karbon dihasilkan oleh semua proses yang menggunakan bahan bakar fosil, yaitu bensin, solar, batubara, elpiji.

Diet rendah karbon diantaranya dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dan listrik yang diproduksi dengan menggunakan bahan bakar fosil. Diet rendah karbon adalah usaha mengurangi jejak karbon kita di bumi ini agar masih layak diwariskan kepada anak-cucu. Menjadikan diet rendah karbon sebagai gaya hidup merupakan wujud tanggung jawab dan kepedulian kepada kehidupan anak-cucu di masa yang akan datang.

pernah dimuat dalam warta jemaat gki surya utama
go green Indonesia!

Selasa, 13 April 2010

Nebeng, gaya hidup ramah lingkungan

Seperti yang dimuat pada website GKI Surya Utama

Apa pilihan kendaraan Anda bila ke gereja? Berapa jumlah penumpang kendaraan yang Anda tumpangi bila ke gereja? Tahukah Anda bahwa pada hari Minggu ke-empat setiap bulan, 10 km dari gedung gereja kita, ada lokasi yang sama sekali bebas dari asap knalpot? Hari Minggu ke-empat setiap bulan merupakan “Car Free Day” yang perayaannya dipusatkan di jalur Senayan, Sudirman hingga silang Monas. Perayaan diet karbon dengan menu utama udara bersih, bebas polusi karena tidak satupun kendaraan bermotor melalui jalan tersebut selama 6 jam.

Udara bersih memang perlu dirayakan karena menjadi barang mewah dan langka di kota Jakarta. Lalu, bila hanya 1 hari dalam 1 bulan masyarakat Jakarta dapat merayakan udara bersih, bukan berarti 29 hari sisanya menjadi perayaan gas polutan. Ada usaha yang perlu dilakukan untuk mengurangi emisi gas polutan. Cara termudah adalah mengurangi jumlah kendaraan bermotor. Suatu pilihan yang sangat berat tentunya mengingat mobilitas penduduk Jakarta yang sangat tinggi. Siapa yang harus memulai? Mari kita berhitung dulu.

Jumlah penumpang yang dapat diangkut oleh sebuah bis adalah 72 orang. Jumlah penumpang yang sama memerlukan 60 buah sepeda motor atau 40 buah mobil. Sebuah bis memerlukan tempat seluas 30 meter persegi di jalan, sementara 60 buah sepeda motor memakai tempat seluas 90 meter persegi dan 40 buah mobil memakai tempat seluas 700 meter persegi. Bila emisi yang dihasilkan untuk menempuh 1 kilometer perjalanan diperbandingkan, yang paling “hemat” emisi adalah pengguna bis. Pengendara sepeda motor mengeluarkan emisi 7.5 kali lebih banyak dibanding pengguna bis. Sedangkan pengendara mobil mengelurkan emisi 15 kali lebih banyak.

Berdasarkan data di atas, jelas bis merupakan kendaraan yang paling cocok untuk melakukan diet karbon. Namun bis sangat tidak populer di Jakarta sebagai alat transportasi karena tidak nyaman untuk ditumpangi dan jumlahnya tidak memadai untuk melayani seluruh penduduk Jakarta dan kota-kota satelitnya. Memang ada bis Trans Jakarta, yang “lumayan” nyaman namun mulai menurun juga kualitasnya akhir-akhir ini. Karena itu, kendaraan bermotor pribadi tetap menjadi pilihan sebagian besar masyarakat.

Hingga saat ini, seluruh kendaraan bermotor masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energi. Pilihan kendaraan bermotor pribadi sepertinya menggagalkan program diet karbon. Tapi masih ada peluang untuk berperan serta dalam program diet karbon. Caranya dengan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor pribadi. Pertimbangkan lebih dahulu rencana bepergian untuk menentukan perlu tidaknya membawa kendaraan bermotor.

Kalau jarak yang akan ditempuh tidak terlalu jauh , tidak perlu berkendaraan. Pergi ke pasar atau toko dekat rumah, dapat ditempuh dengan sepeda. Untuk menempuh jarak jauh, selain sepeda yang sekarang mulai populer, angkutan massal juga bisa menjadi pilihan. Tidak semua kondisi angkutan massal separah bis. Ada beberapa pengembang perumahan yang menyediakan angkutan massal bagi penghuninya dengan tujuan-tujuan tertentu. Angkutan-angkutan ini biasanya terawat sehingga nyaman ditumpangi.

Pillihan lain adalah nebeng. Jumlah bahan bakar fosil yang dibakar untuk sebuah mobil dengan penumpang 1 maupun 4 orang adalah sama. Ajak anggota keluarga atau tetangga yang mempunyai tujuan searah. Saat ini ada komunitas nebeng yang komunikasinya difasilitasi oleh situs maya www.nebeng.com dengan jumlah anggota puluhan ribu orang. Komunitas ini menjalin hubungan saling membutuhkan di antara anggotanya. Hubungan antara penebeng dan yang ditebengi bukan lagi sekedar hubungan antara penumpang dan supir. Ada rasa kebersamaan dan ikatan batin di antara mereka. Nebeng bukan hal yang memalukan lagi, tapi menjadi gaya hidup ramah lingkungan.

Jadi, kembali kepada pertanyaan di awal. Apa pilihan kendaraan Anda bila ke gereja? Tidak harus mobil pribadi. Berapa jumlah penumpang kendaraan yang Anda tumpangi bila ke gereja? Manfaatkan setiap tempat duduk agar emisi yang dihasilkan tiap penumpang makin sedikit. Berjalan kaki, bersepeda, atau nebeng….kenapa tidak?



go green Indonesia!

Jumat, 15 Januari 2010

DIET RENDAH KARBON

Sudah banyak orang mengenal istilah diet rendah kalori, diet rendah lemak , diet rendah gula maupun diet tinggi serat dan menjadikannya sebagai gaya hidup sehatnya. Semuanya merujuk pada pola makan sehat untuk menghindari penyakit-penyakit degeneratif. Bagaimana dengan diet rendah karbon? Mudah-mudahan tulisan ini memberi insipasi untuk memilih diet rendah karbon sebagai salah satu gaya hidup untuk menciptakan lingkungan sehat yang akan diwariskan kepada anak-cucu.

Berbeda dengan diet-diet yang disebut di awal tulisan ini, diet rendah karbon bukanlah diet yang dibuat dengan menghitung unsur-unsur nutrisi yang masuk ke dalam tubuh kita. Yang dihitung dalam diet rendah karbon adalah emisi gas rumah kaca yang kita hasilkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap karbon yang dikeluarkan menciptakan jejak karbon. Keberhasilan diet rendah karbon dilihat dari makin kecilnya jejak karbon yang kita buat. Umumnya, jejak karbon dihasilkan oleh semua proses yang menggunakan bahan bakar fosil. Termasuk di antaranya adalah bensin, solar, batubara, elpiji.

Hal sederhana yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan alat transportasi. Hingga saat ini, seluruh kendaraan bermotor di Indonesia masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energi. Pertimbangkan lebih dahulu rencana bepergian untuk menentukan perlu tidaknya membawa kendaraan bermotor. Ada pilihan-pilihan sarana transportasi lain selain membawa sendiri kendaraan bermotor. Berjalan kaki adalah salah satunya dan sama sekali tidak meninggalkan jejak karbon.
Hal sederhana lain adalah penggunaan listrik. Hampir 70% listrik di Indonesia masih bersumber dari bahan bakar fosil (batu bara dan minyak bumi). Karena itu penggunaan alat listrik yang bijaksana bukan hanya mengirit biaya bulanan, tapi juga mengurangi jejak karbon.

Bila dirunut lebih jauh, hampir seluruh proses hidup yang kita jalani meninggalkan jejak karbon. Mulai saja dari menu yang tersedia di meja makan. Nasi yang menjadi bahan pokok berasal dari pertanian, yang lokasinya bisa saja puluhan kilometer dari tempat kita tinggal dan untuk mengangkutnya memerlukan bahan bakar fosil. Pertanian memerlukan pupuk yang diproduksi oleh pabrik yang berlokasi puluhan kilometer juga. Diperlukan bahan bakar fosil untuk mengoperasikan pabrik pupuk dan mengangkut pupuk ke lokasi pertanian.

Demikian pula halnya proses produksi sayur mayur dan buah-buahan. Pilihan beras, sayur dan buah organik yang dihasilkan oleh pertanian yang berlokasi tidak jauh tentu mereduksi cukup banyak jejak karbon. Pertanian organik tidak tergantung pada keberadaan pabrik pupuk sintetis. Penggunaan beras, sayur dan buah lokal juga mengurangi jejak karbon karena tidak diperlukan alat transportasi yang mengangkutnya.
Bergeser sedikit, ke kamar mandi. Kebiasaan penggunaan pemanas air listrik maupun gas untuk mandi perlu dipikir ulang. Hidup di negara tropis sebetulnya telah membuat air cukup hangat untuk mandi orang sehat. Alangkah mubazirnya penggunaan pemanas air yang listriknya terus dalam posisi “stand-by”.

Masih di tempat yang sama, liriklah tempat tissue. Saat ini “toilet tissue” umumnya menjadi salah satu pengisi daftar belanja bulanan. Tissue terbuat dari bubur kertas yang dihasilkan dari batang-batang pohon yang ditebang. Deforestasi mengurangi daya serap karbon yang ada di udara, sementara emisi karbon terus meningkat. Jejak karbon tak terhapuskan. Penggunaan handuk berbahan katun yang dapat dicuci dan dipakai ulang tentu lebih bijaksana.

Kalau mau diteruskan, tulisan ini tentunya akan menjadi tulisan nyinyir yang seolah-olah menyesali modernitas. Bukan itu maksud tulisan ini dibuat, tapi untuk mengajak “berpikir global, bertindak lokal”. Hal-hal kecil yang menjadi pilihan kita sesungguhnya berpengaruh secara global bila dilakukan secara massal. Masalah global sekarang ini adalah peningkatan suhu rata-rata bumi. Mari bersama-sama melakukan hal-hal kecil dengan lebih bijak.

Kearifan suku Amungme di Papua Barat yang menjadikan tanah sebagai ibu kandung mereka bisa menjadi sumber inspirasi kita. Ibu Bumi saat ini sudah tua dan sedang sakit parah, nyaris sekarat. Seluruh sumber daya yang dikandungnya dieksploitasi anak-anaknya yang hidup di sekujur tubuhnya. Nafasnya sesak karena emisi yang dihasilkan anak-anaknya memenuhi atmosfernya. Tubuhnya mengering dan kepanasan karena lapisan tabir surya yang meliputi tubuhnya berlubang. Kalau masih ada cinta kepada Ibu Bumi, ibu kita semua, mari kita menjalani diet rendah karbon agar Ibu Bumi tidak makin menderita di akhir hidupnya. Diet rendah karbon bagi kesehatan Ibu Bumi.

go green Indonesia!