Tampilkan postingan dengan label plastik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label plastik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Desember 2011

Pohon Natal dan dekorasinya

Seperti yang akan dimuat dalam majalah Bethlehem terbitan GKI Surya Utama thn 2011 (dengan sedikit perubahan)

Di negara-negara dengan 4 musim di belahan bumi bagian utara, cemara dan pinus merupakan tumbuhan yang masih dapat bertahan pada saat Natal selain lumut, karena itu digunakan sebagai pohon Natal. Meskipun ada juga yang menggunakan pohon buatan dari bahan PVC, pohon hidup merupakan pilihan utama di sana. Di beberapa negara, pohon cemara dan pinus dibudidayakan sehingga tidak merusak hutan meskipun setiap tahun dikonsumsi dalam jumlah besar. Setelah lewat masa Natal, pohon-pohon ini dibuang dan sampahnya dapat membusuk secara alamiah sehingga tidak menimbulkan masalah lingkungan.

Di negara tropis seperti Indonesia, segala macam pohon dan tanaman dapat hidup pada masa Natal. Kalau pohon Natal dikaitkan dengan makna kehidupan yang dirayakan pada saat Natal, ada banyak pohon selain cemara dan pinus yang dapat dipakai sebagai pohon Natal. Anehnya sebagian besar pohon Natal di Indonesia merupakan pohon buatan yang dibuat mirip cemara atau pinus. Bahkan yang disebut sebagai “pohon Natal bersahabat dengan lingkungan” adalah pohon buatan berbentuk pohon pinus atau cemara yang dibuat dari sampah plastik . Memang pohon buatan dapat bertahan lama dan dapat digunakan berkali-kali, namun pohon buatan yang berbahan baku logam dan turunan PVC membutuhkan energi yang besar untuk membuatnya. Tidak jarang pohon buatan ini diproduksi di tempat yang jauh sehingga memerlukan bahan bakar fosil dalam jumlah sangat besar untuk sampai ke Indonesia. Setelah tidak digunakan lagi, pohon buatan ini berpotensi mencemari lokasi penimbunan sampah hingga puluhan tahun karena tidak mudah hancur secara alamiah.

Sudah saatnya mempertimbangkan pohon dan tanaman hias lainnya sebagai pohon Natal. Pohon dan tanaman merupakan penyerap karbon dioksida dan mampu menurunkan suhu rata-rata rumah. Bisa juga memanfaatkan pohon yang ada di halaman tanpa perlu mencabutnya. Bila pohon harus dibeli, belilah pohon lokal yang dijual di tempat yang tidak jauh. Pilihlah pohon yang berakar sehingga bisa ditanam lagi setelah perayaan Natal usai.

Dekorasi pohon Natal dapat dibuat sendiri dengan mendaur ulang sampah atau memanfaatkan hiasan bingkisan Natal dan kartu Natal yang didapat tahun lalu. Atau dari bahan alami seperti jagung, kayu manis, buah-buahan atau bunga segar maupun kering. Bila pohon yang dihias adalah pohon di halaman, hiasan dapat berupa biji-bijian untuk mengundang burung, serangga, bunglon, dan hewan lainnya. Binatang-binatang ini akan menjadi hiasan pohon Natal yang alami, indah bahkan menghasilkan suara asli, bukan mesin.

Pilihlah lampu Natal LED yang hemat energi karena hanya menggunakan 1/20 watt untuk masing-masing lampu. Lampu Natal biasa menggunakan listrik 2,5 watt. Nyalakan lampu seperluya. Bila pohon berada di dalam ruangan, matikan lampu-lampu ruangan pada saat lampu pohon Natal dinyalakan. Pada saat penghuni rumah pergi, lampu pohon Natal tidak perlu dinyalakan. Matikan lampu itu pada siang hari dan sebelum tidur.

Mari merayakan Natal dengan mengembalikan hak hidup makhluk lain di sekitar kita. Bila mereka mendapatkan kembali hak hidup mereka, kualitas hidup manusia juga akan meningkat.

Senin, 24 Oktober 2011

BILA MASIH ADA KANTONG PLASTIK KRESEK

Sudah banyak yang mengetahui kalau Kantong Plastik Kresek (selanjutnya hanya disebut KPK saja) itu tidak bersahabat dengan lingkungan. Menolak KPK dari pedagang sudah menjadi perilaku sehari-hari. Seharusnya tidak ada lagi KPK yang diterima dari pasar. Namun masih ada KPK yang berhasil memasuki rumah, karena ada banyak keadaan yang memaksa kita menerima KPK, contohnya :

  • Kelalaian sendiri, yaitu saat berbelanja tidak membawa tas, jadi terpaksa menerima KPK.
  • Penjual sudah mengemas dagangannya dalam KPK. Kalau kita hanya mengambil isinya, pasti KPKnya akan dibuang oleh pedagang karena dianggap tidak layak dipakai lagi.
  • Pada saat membeli barang dalam ukuran besar, penjual memaksa menempelkan KPK sebagai bukti barang tersebut sudah dibayar.
  • Ada pemberian barang atau makanan dan dikemas dalam KPK. Rasanya tidak sopan bila kita mengambil isinya saja lalu mengembalikan KPKnya.
Yang dapat dilakukan terhadap KPK ini adalah membersihkan kantong kresek, lipat rapi dan simpan di tempat yang mudah diingat agar mudah mengambilnya lagi untuk dipergunakan lagi. Gunakan kantong kresek ini berkali-kali sampai keadaannya sudah tidak layak pakai, baru dimanfaatkan untuk menampung sampah. (Kalau sudah terbiasa memilah sampah, tentu kebutuhan KPK untuk tempat sampah tidak terlalu banyak). Bila koleksi KPK sudah terlalu banyak, berikan kepada pedagang untuk digunakan kembali.

dalam proses pemuatan di warta jemaat gki surya utama


go green Indonesia!

TIDAK CUKUP HANYA MEMBAWA TAS

Pergi ke pasar merupakan salah satu hal rutin yang dilakukan oleh ibu rumah tangga atau pembantunya. Sudah banyak yang menyadari perlunya membawa tas belanja pada saat pergi ke pasar. Bila sungguh-sungguh ingin menghentikan penggunaan kantong plastik, jangan lupa beberapa hal berikut :
  • Bawa beberapa tas sebagai pengganti kantong plastik untuk membungkus sayur dan benda lain secara terpisah atau untuk menampung buah, telur dan benda lain yang perlu ditimbang.
  • Bawa kotak plastik bertutup bila berencana membeli daging mentah. Daging, khususnya ikan, dan binatang air lainnya biasanya basah dan sering mengotori mobil. Penggunaan kantong plastik untuk membungkus bahan ini seringkali membutuhkan kantong plastik lagi untuk mencegah kebocoran. Kotak plastik tidak memerlukan kantong plastik lagi kalau ditempatkan rapi di dalam tas dan lebih mudah dibersihkan untuk digunakan lagi dibandingkan kantong plastik.
  • Bawa rantang atau kotak bila berencana membeli makanan matang. Sekarang ada rantang dengan dilengkapi lapisan karet pada bagian tutupnya sehingga dapat digunakan untuk membawa makanan berkuah tanpa resiko tumpah.
  • Beli kecap, minyak goreng, shampoo, sabun dan bahan cair lain dalam kemasan besar. Ini berarti menghemat sumber daya untuk kemasan. Bila terlalu banyak, ajak teman atau saudara untuk patungan untuk membelinya.
Meskipun sudah banyak dianjurkan dan dikampanyekan, hingga saat ini masih jarang dijumpai pembeli yang membawa tas sendiri untuk berbelanja. Perilaku menolak kantong plastik menjadi hal yang istimewa di mata pedagang. Ada juga pedagang yang berterimakasih dan berharap lebih banyak lagi orang yang membawa tas sendiri, karena itu berarti mengurangi anggaran belanjanya. Beberapa pedagang di pasar bahkan ada yang mengapresiasi pembeli yang menolak kantong plastik dengan memberikan bonus barang dagangannya.

Memang agak repot dalam mempersiapkan diri sebelum berbelanja. Namun, bukankah wajar merepotkan diri untuk memberikan warisan bumi yang layak huni bagi anak dan cucu kita?

dalam proses pemuatan dalam warta jemaat gki surya utama
go green Indonesia!

BERHENTI MENGGUNAKAN KANTONG PLASTIK KRESEK

Banyak orang yang sudah mengetahui perlunya mengurangi penggunaan kantong plastik kresek (selanjtnya disebut KPK saja), tapi sedikit sekali yang benar-benar berhenti menggunakan KPK pada saat berbelanja. Berikut ini beberapa tips mengurangi penggunaan KPK.

  • Sediakan tas yang mudah dilipat dan dibawa ke mana-mana. Tas ini tidak perlu dibeli khusus, karena sering dibagikan dalam seminar, rapat kerja, pertandingan bahkan ada yang menjadikannya sebagai souvenir pernikahan.
  • Simpanlah tas ini di dalam tas / ransel yang dibawa saat bepergian atau di dalam kendaraan. Dengan demikian tidak lagi ada alasan lupa membawa tas belanja dan di manapun Anda dapat berhenti untuk berbelanja.
  • Ingatkan kasir bahwa Anda tidak memerlukan KPK pada saat membayar. Biasanya kasir secara otomatis memasukkan belanjaan ke dalam KPK. Ada beberapa toko yang mempunyai kebijakan untuk membuang KPK yang tidak jadi digunakan dengan alasan sudah lecek. Jadi ingatkan sebelum kasir mengeluarkan KPK.
  • Jelaskan pada kasir alasan Anda membawa tas sendiri. Syukur-syukur ada pembeli lain yang mendengarkan. Masih banyak orang yang tidak mengerti kenapa harus mengindari penggunaan KPK. Ini adalah salah satu cara menularkan virus mencintai lingkungan.
  • Jika lupa membawa tas belanja dari rumah, masukkan belanjaan ke dalam ransel, tas atau saku pakaian. Jika hanya membeli produk yang berukuran kecil dan dalam jumlah sedikit, seperti permen, odol, sabun, baterai, atau air kemasan, bawa saja dengan tangan, atau masukkan ke dalam kantong celana atau tas
dalam proses pemuatan di warta jemaat gki surya utama


go green Indonesia!

PLASTIK DAN MASALAH LINGKUNGAN YANG DITIMBULKANNYA 4

Belakangan ini muncul kantong plastik kresek yang berlabel eco plastic. Nampaknya plastik ini menjadi populer sebagai plastik yang bersahabat dengan lingkungan dan mampu mengatasi masalah akibat penggunaan kantong plastik biasa. Eco-plastic mengandung singkong, jagung atau bahan organik lainnya sehingga lebih cepat hancur.

Berikut ini fakta mengenai eco-plastic :
  • Biaya produksi lebih mahal dibandingkan biaya produksi plastik biasa.
  • Lebih mudah robek dan tidak sekuat plastik biasa, sehingga hanya dapat digunakan satu kali sebelum dibuang.
  • Menciptakan varian sampah baru
  • Tidak seluruh bahan eco-plastic dapat hancur dengan sendirinya
  • Menciptakan kebutuhan lahan baru untuk menanam bahan baku eco-plastic yang bukan tidak mungkin akan menggunduli hutan bila produksi terus meningkat karena permintaan pasar
Meskipun masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh si lentur murah meriah ini begitu besar, plastik terus diproduksi, didaur ulang dan dipakai hanya satu kali. Karena pasar terus memintanya. Yang diperlukan sebagai pengganti kantong plastik kresek bukanlah eco-plastic, tetapi tas berbahan dasar bukan plastik dan dapat digunakan hingga ratusan atau ribuan kali.

dalam proses pemuatan di warta jemaat gki surya utama
go green Indonesia!

PLASTIK DAN MASALAH LINGKUNGAN YANG DITIMBULKANNYA 3

Masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh plastik tidak hanya ada pada saat proses pembuatan dan saat menjadi sampah, tetapi juga saat didaya-guna-ulangkan dan didaur ulang.

Saat ini banyak pengrajin mendaya-guna-ulangkan sampah plastik menjadi tas, ikat pinggang, hiasan dan benda-benda bermanfaat lainnya. Biasanya berlatarbelakang keprihatinan akan banyaknya sampah plastik. Banyak produsen consumer goods mendorong, memberi semangat serta memamerkan hasil karya para pengrajin ini. Sayangnya apresiasi terhadap kreativitas ini seringkali hanya sebatas membelinya. Setelah itu disimpan di tempat yang tak terjangkau hingga lama kelamaan berdebu, lalu dibuang dan menjadi sampah. Padahal dosa sampah produsen dan konsumen consumer goods dalam kemasan plastik tidak terhapus melalui pameran,penjualan dan pembelian hasil karya para pengrajin ini.

Di tempat lain, kreativitas mengolah sampah menjadi hiasan difasilitasi oleh pabrik yang membuat bahan baku kerajinan tangan dari plastik, seperti sedotan, gelas khusus untuk kerajinan tangan. Akhirnya kerajinan tangan dibuat dari plastik baru, tidak lagi dari plastik bekas. Misi mengatasi sampah plastik menjadi semakin jauh.

Bila didaur ulang menjadi plastik lagi, prosesnya meninggalkan jejak karbon yang besar. Plastik yang didaur ulang adalah segala jenis plastik bekas yang mungkin saja pernah bersentuhan dengan bahan beracun dan tidak higienis. Proses ini menggunakan bahan bakar fosil dan melepaskan racun dioxine dan gas yang mengandung karbon, salah satu unsur pembentuk gas rumah kaca. Selain itu, memerlukan bahan pengisi yang lagi-lagi berbahan baku minyak bumi. Hasilnya berupa plastik hitam yang justru dihindari penggunaannya. Pendaur-ulangan plastik hanya memperpanjang usia plastik sebelum akhirnya menjadi sampah.

Mendaya-guna-ulangkan atau mendaur-ulang sampah plastik tidak mengatasi masalah sampah plastik, , malah menjadikannya semakin rumit. Sampah masih ada dan makin banyak karena terus diproduksi. Ini hanya dapat dikurangi dengan menghentikan penggunaan plastik dan pembelian consumer goods dalam kemasan kecil.

dalam proses pemuatan di warta jemaat gki surya utama
go green Indonesia!

PLASTIK DAN MASALAH LINGKUNGAN YANG DITIMBULKANNYA 2

Selama plastik masih dimanfaatkan, plastik akan diproduksi terus. Selama plastik masih diproduksi, sampah plastik akan ada terus. Sampah plastik menjadi masalah tak berujung saat ini sekalipun banyak ide kreatif yang muncul untuk mengatasinya.

Ide kreatif pertama yang banyak dilakukan di tingkat rumah tangga adalah memakai Kantong Plastik Kresek (selanjutnya disebut KPK saja) bekas belanja sebagai kantong penampung sampah. Faktanya lebih banyak KPK yang langsung dibuang setelah sekali pakai dibanding yang dimanfaatkan sebagai kantong sampah. Sampah rumah tangga dalam satu hari hanya memerlukan 1 atau 2 KPK. Padahal saat berbelanja ada 5 hingga 10 KPK yang diberikan oleh penjual, tergantung banyaknya belanjaan. Fakta lainnya adalah dijualnya kantong plastik khusus untuk sampah. Padahal sampah tidak memerlukan plastik dan hampir 100% KPK yang diproduksi akan menjadi sampah. Fakta-fakta ini membuat masalah sampah plastik semakin rumit dan tidak jelas ujung pangkalnya.

Untuk keluar dari kerumitan yang berputar di sekitar plastik sampah rumah tangga, jalannya hanyalah dengan mengurangi sampah sehingga kebutuhan KPK untuk menampung sampah juga berkurang. 90% sampah rumah tangga bisa dibuat kompos atau dipakai lebih lama atau didaur ulang. Kalau KPK tidak menjadi kebutuhan, maka tolaklah pemberian KPK dari penjual dan bawalah tas belanja sendiri dari rumah.

dalam proses pemuatan di warta jemaat gki surya utama


go green Indonesia!

PLASTIK DAN MASALAH LINGKUNGAN YANG DITIMBULKANNYA 1

Penemuan plastik dan perkembangan teknologi pembuatannya merupakan langkah besar umat manusia. Dengan sifat-sifat yang ringan, kedap air dan udara, higienis, tahan karat, tidak bisa membusuk, sulit terurai secara alami, serta mudah diproduksi secara massal dengan harga murah, plastik menjadi pilihan favorit dalam segala bidang.

Sayangnya, keunggulan plastik dibanding bahan lain ini pula yang memjadikan plastik sebagai sumber masalah lingkungan yang rumit. Masalah lingkungan sudah dimulai sejak plastik diproduksi. Plastik dibuat dari polimer sintetis yang berbahan baku minyak bumi yang jumlahnya semakin terbatas. Proses pembuatan plastik melalui banyak tahap yang semuanya memerlukan bahan bakar fosil. Setelah jadi, pendistribusian produk plastik ke konsumen lagi-lagi memerlukan bahan bakar fosil.

Sebagian besar plastik berbentuk lembaran hanya digunakan 1 kali. Setelah digunakan, baik dibuang secara sembarangan, dibuang di tempat sampah, maupun dipilah dari sampah lain, plastik tetap menjadi sumber masalah lingkungan.

Bila dibuang sembarangan lalu masuk ke saluran air, akan terjadi pendangkalan sungai. Bila terbawa aliran sungai dan masuk ke laut akan membuat mati tersedak satwa laut yang mengiranya sebagai ubur-ubur, mangsanya. Bila terkumpul di dalam tanah akan membentuk lapisan kedap air sehingga mengganggu penyerapan air ke dalam tanah yang mengakibatkan banjir. Plastik yang ditumpuk di dalam tanah juga akan menyulitkan akar tanaman menjangkau air, sehingga mati. Bila dibuang di tempat sampah bersama sampah lain dan dibakar akan mengeluarkan gas-gas beracun.

Plastik memang murah dan praktis. Tapi tidak berarti harus dibuang setelah dipakai satu kali. Bila sudah tidak layak pakai lagi, pisahkan sampah plastik dengan sampah lainnya dan pastikan sampah plastik sampai kepada pihak yang dapat mendaur-ulangnya.

Dalam proses pemuatan di warta jemaat gki surya utama
go green Indonesia!

Rabu, 19 Oktober 2011

Perlakuan Terhadap Keresek yang Kadung Dimiliki

Jujur, tulisan bagus ini bukan karyaku. Tulisan aslinya ada di sini, di salin dengan seijin pemiliknya.

Merujuk pada ilmu taksonomi, keresek (plastic bag) diklarifikasikan ke dalam spesies “Plastik” yang sudah berkembang biak sekitar 50 tahun silam, dan sekitar 1 juta kantong plastik per menit lahir. Spesies ini mempunyai habitat yang luas juga mampu beradaptasi di segala daerah, hal itu dapat dibuktikan ketika pulang pergi sekolah tiap hari saya selalu melihat mereka sedang berenang-renang menyusur sungai Citarum, wow! Satu lagi kehebatannya, mereka bisa bertahan hidup sampe 100-500 tahun, wow! tanpa makan dan minum pula loh!

Subhanallah, sungguh besar ciptaan-Mu! huss, plastik itu buatan manusia, dibikin dari ampas minyak bumi. Meski si plastik ini bermanfaat tapi namanya juga buatan manusia, pasti lah tidak sempurna, bahkan mungkin merugikan. Uni Emirat Arab aja meng-“haram”-kan penggunaanya karena saking sayangnya pada lingkungan.

Eh tapi kenapa sampe diberi label haram gitu kan kasihan tu?!

Coba cermati fakta berikut

Rata-rata timbunan sampah Kota Bandung adalah 7.500 m3 atau 2.000 ribu ton per hari, dimana setiap orang di Bandung menyumbang sekitar 2,5 liter sampah per hari.

Menurut anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Sobirin Supardiyono, jika komposisi sampah plastik rata-rata 5% dari jumlah itu, setiap hari Bandung mengahsilkan 100 ton sampah plastik. Dengan asumsi ukuran satu kantong plastik 50 x 40 cm dan berat 10 gram, maka sampah plastik di Kota Bandung setara dengan 200 lapangan sepakbola perharinya.

Wow! Tapi kenapa yg dijadiin sampelnya Bandung, pertama saya tinggal disana dan kedua Cuma data ini yang saya temukan, zehaha. Tapi bukan Bandung-nya yang harus dipermasalahkan, sebab hal ini juga hampir dialami kota-kota lainnya. Sampah plastik bertebaran di jalan, trotoar, tong sampah –pasti lah!-, dan menutupi saluran air. Dan jika musim penghujan datang, sudah bisa dipastikan air akan turun dari langit, ya iya lah! Banjir pun menerjang.

Keresek juga terbuat dari polychlorinated biphenyl (PCB) yang punya struktur mirip DDT dalam peptisida, racun tuh! Sesuatu yang berasal dari keburukan pasti kesananya juga akan buruk. Kalau jatuh ke tanah, ekosistem tanahnya akan hancur, kalau jatuh ke air pasti akan kebawa arus tu, zehaha. SAMPAH=RACUN!!!

Jadi kurangilah penggunaan keresek, kalau bisa sih dihentikan kan masih banyak alternatif lainnya, seperti langsung pake tas belanja, atau “keresek ramah lingkungan” bisa juga dicoba tuh. Namun kalau kadung sudah punya keresek, ga apa-apa lah namanya juga khilaf.

Ini beberapa tips yang bisa kita lakukan pada keresek yang sudah dimiliki

JANGAN DIBUANG apalagi kalau dibuangnya sembarangan, ke kepala orang lagi. Jangan juga coba-coba untuk membakar tu keresek, malah bikin masalah lainnya, POLUSI!

SIMPAN baik-baik keresek yang sudah didapat. Usahakan simpan di tempat aman dan tidak lembab, jauhkan dari jangkauan anak-anak, zehaha. Selalu simpan di tas jika mau bepergian, jadi kita bisa menolak penjual yang memberi keresek.

RAWAT seperti mengurus anak. Kalau bisa mandikan dalam air hangat suam-suam kaki, jangan lupa jemur di bawah pancaran matahari pagi, pasti sobat tahu kan berjemur pagi itu sehat.

GUNAKAN KEMBALI pada saat ingin digunakan. Tapi pake buat apa? Banyak hal yang bisa kita lakukan dengan kantong keresek, yang paling utama pasti buat wadah barang. Terus keresek juga bisa digunakan sebagai hiasan dinding, alas kaki jika ada banjir, pelindung kepala dari hujan, alas buat pijakan standar motor

WARISKAN pada generasi penerus kita, kan keresek itu terbuat dari bahan yang sulit terurai, jadi tidak mungkin rusak dalam 1-2 minggu aja. Perlu waktu yang lama sampai akhirnya sebuah keresek bisa lenyap dari muka bumi.

Lebih baik tidak menerima keresek! meski kresek itu dapetnya mudah malah dikasih cuma-cuma sama penjualnya, coba pikirin mana ada zaman sekarang yang gratis. Air, udara, tanah, dan tentunya bumi tercinta ini pemberian gratis juga dari Allah, mau semua itu jadi berbayar?! Coba pikir-pikir lagi sebelum menerima keresek.

Pasti yang baca posting ini merupakan orang-orang pinter, jadi diharapkan bisa membedakan mana tulisan bermanfaat dan tulisan ngaco. Semoga bermanfaat!
go green Indonesia!

Rabu, 14 September 2011

Biodegradable plastic bags carry more ecological harm than good

Di-co-pas dari Green wash, exposing false environmental claims

Biodegradable plastic bags – as handed out by Tesco, the Co-op and once even sold by the Soil Association – must be good, surely? They have a magic ingredient that means they self-destruct after a few months, breaking up into tiny pieces made of simple molecules that bugs and fungi can happily munch up. Dozens of major corporations use them, including Pizza Hut, KFC, News international, Walmart and Marriott hotels.

But last week, the European Plastics Recyclers Association warned that they "have the potential to do more harm to the environment than good."

Technically what we are talking about here is "oxo-degradable" plastics. These are plastics made to degrade in the presence of oxygen and sunlight, thanks to the addition of tiny amounts of metals like cobalt, iron or manganese.

British manufacturers – headed by Symphony Technologies of Borehamwood – are at the sharp end of a revolution that could banish bag-strewn beauty spots and back alleys alike.

But the criticisms are twofold. First, some research suggests that the bags don't degrade as well as claimed. And second, priming plastic bags for destruction is itself an ecological crime.

So, do they really biodegrade away to nothing? Symphony, which supplies the Co-op and Tesco, says its bags are "able to degrade completely within about three years, compared to standard bags which take 100 years or longer". Tesco reckons they all decompose within 18 months "without leaving anything that could harm the environment".

But whether it actually happens seems to depend a lot on where the "biodegradable" plastic ends up. If it gets buried in a landfill it probably won't degrade at all because there is no light or oxygen. But what about elsewhere?

Studies of one brand in the US, commissioned by the Biodegradable Products Institute, found that breakdown is very dependent on temperature and humidity. It goes slow in cold weather. And high humidity virtually stops the process, making long, wet winters sound like bad news.

You might think a compost heap full of biodegrading bugs would be ideal. But a recent Swedish study found that polyethylene containing manganese additive stops breaking down when put in compost, probably due to the influence of ammonia or other gases generated by microorganisms in the compost.

And, while most manufacturers say that to put only tiny amounts of metals into the plastic, the US study found that one brand contained "very high levels of lead and cobalt", raising questions about the toxicity of the leftovers. Neither of these studies relates specifically to Symphony's products. But they raise questions.

The European Plastics Recyclers Association last week argued that biodegradable bags are not the right environmental option anyway. Plastic bags take a lot of energy and oil to make so why waste them by creating bags that self-destruct? "It is an economic and environmental nonsense to destroy this value," the recyclers' trade association concluded.

Of course, we consumers can reuse or recycle biodegradable bags as easily as any other kind. Symphony and other manufacturers stress making bags biodegradable is just an insurance policy for those that don't get recycled or reused. But surely we are less likely to bother if we are told the bags are eco-bags that biodegrade.

This European backlash against oxo-biodegradable plastics follows similar rumblings in the US. In March, the New York Times announced it would not be wrapping its paper in bags made of the stuff because claims that the plastic was "100% biodegradable" did not stand up. This followed a ruling last December by an advertising industry watchdog, part of the US Council of Better Business Bureaus, that makers should stop calling the bags "eco-friendly".

(In marked contrast, the UK Periodical Publishers Association two years ago recommended that all its members use oxo-biodegradable film to wrap their magazines)

Industry websites, including Symphony's, do proudly proclaim one green endorsement – that the organic trade body the Soil Association buys their bags. But Clio Turton at the Soil Association told me: "We've had problems with people making these claims. We have asked for them to be removed. It's very frustrating."

Plastic bags are not the biggest environmental issue on the planet, as George Monbiot explained in a blog here recently.

But most of us probably make "bag choices" several times a day. Brits get through 8bn plastic bags a year. For that reason, they are one of the choices that tend to show if we care about the environment or not. And we should be clear. Re-using bags is best. Recycling is second best. Throwing them away in the hope that a magic formula will guarantee their rapid disappearance is laziness, not environmental care. And anybody who tries to persuade us otherwise is guilty of Greenwash.

• This article was amended on Friday 19 June 2009. We should have made clear that the Soil Association no longer sells the biodegradable plastic bags referred to in this article. This has been corrected.

• Do you know of any green claims that deserve closer examination? Email your examples to greenwash@guardian.co.uk or add your comments below


go green Indonesia!

Minggu, 07 Agustus 2011

Menuju Zero Waste : belanja

Sampah harian rumah tangga terbesar berasal dari dapur. Tepatnya, sampah harian rumah tangga terbesar berasal dari pasar yang transit di dapur. Karena itu, untuk mengurangi sampah rumah tangga, kurangi jumlah sampah yang berasal dari pasar.

Sebagian besar sampah dari pasar adalah kemasan. Jadi bawa kemasan sendiri ke pasar. Ini merupakan salah satu alasan pembuatan daftar belanja sebelum pergi ke pasar, selain untuk menghindari belanja berlebihan.

Dengan berpatokan pada daftar belanja, siapkan wadah-wadah yang diperlukan. Saat ini banyak wadah-wadah plastik bermutu tinggi, bersifat food grade dengan warna-warni yang cantik. Ukurannyapun bermacam-macam. Bahkan ada produsen yang memberi jaminan seumur hidup untuk produknya, artinya menerima wadah plastik yang sudah rusak dan memberikan gantinya. Produk-produk ini akan didaur ulang untuk dibuat menjadi wadah yang baru. Wadah-wadah plastik ini bermanfaat untuk membawa bahan makanan yang mengandung air atau berbau amis seperti tahu, ayam, udang, ikan. Juga untuk bahan makanan kering yang berukuran kecil seperti kacang-kacangan, gula, beras, tepung.

Selain wadah-wadah, bawa juga tas-tas kain untuk membawa sayur-sayuran, buah-buahan dan bahan makanan yang sudah dikemas di pabrik. Rantang, perabotan rumah tangga yang nyaris terlupakan pada masa kini juga dapat dimanfaatkan kembali untuk membawa makanan matang yang akan dibeli di pasar.

Tas-tas kain dan wadah-wadah yang dibawa akan mengurangi banyak sampah dapur. Sampah yang tersisa adalah potongan-potongan sayur dan kulit buah yang bisa dibuat kompos. Sampah lainnya plastik kemasan minyak, kecap, kembang tahu, susu, botol-botol kaca, kaleng yang bisa dikumpulkan dalam keadaan bersih dan diberikan kepada pemulung untuk didaur ulang. Lerak dapat digunakan untuk membersihkan kemasan-kemasan ini dan hanya memerlukan sedikit air untuk membilasnya.

Pada awalnya memang agak merepotkan. Misalnya, perlu sedikit ngotot kepada penjual agar mau menimbang bahan makanan di dalam wadah yang Anda sodorkan. Mungkin juga cara menimbang yang aneh ini membuat penjual enggan melayani Anda karena menyita waktunya. Jadi, pilih penjual yang sedang tidak melayani banyak pembeli.

Kerepotan lain, perlu kewaspadaan agar tidak keduluan penjual memuat barang belanjaan ke dalam kantong plastik miliknya. Kalau sudah kejadian, sekalipun kantong plastik ini dikembalikan, penjual tidak akan menggunakannya lagi melainkan membuangnya. Sama juga bo’ong, jadi sampah juga!

Namun, setelah berulang-ulang melihat hal yang sama, penjual akan terbiasa bahkan lebih percaya kepada Anda. Misalnya saat Anda memilih baso dan memasukkannya ke dalam wadah, penjual tidak akan menghitung lagi jumlahnya. Tidak jarang penjual memberikan bonus atau potongan harga karena kantong plastiknya tidak dipakai. Sama seperti tawar-menawar harga, tawar-menawar penggunaan wadah lebih mudah dilakukan di pasar dibandingkan di supermarket, karena semua produk sudah diberi kemasan di supermarket. Jadi lebih mudah mengurangi sampah dengan berbelanja di pasar.

Mari mengurangi sampah dengan gaya berbelanja bebas sampah.


go green Indonesia!

Rabu, 27 Oktober 2010

Anilawati Nurwakhidin, calon guru yang jadi aktifis lingkungan

Jujur, tulisan bagus ini bukan karyaku. Tulislan ini adalah karya Mas Hadi di sini, disalin atas seijin pemiliknya. Mari belajar berdiet plastik dari hal-hal rutin.

Anil adalah salah satu teman lama saya semasa kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri pencetak calon guru di Bandung. Karena kecintaannya terhadap lingkungan, dan berkat dorongan dari hati untuk melakukan sesuatu untuk lingkungan, maka jadilah anil bekerja pada sebuah lembaga non profit peduli lingkungan bernama YPBB. Bersama YPBB, Anil berusaha untuk mengkampanyekan hidup organis dan berkontribusi untuk alam dengan cara tidak menambah beban sampah untuk bumi ini.

Beberapa hari yang lalu, saya kembali mengobrol dengan anil, dan topik obrolan kali ini adalah seputar minum jus dan sedotan.

Anda pasti pernah minum jus bukan? Entah di rumah, café, rumah makan, warung nasi, hingga warung pinggir jalan pasti anda pernah meminum jus. Bagaimanakah penyajian jus favorit anda? Pasti semuanya disajikan dalam gelas kemudian diberi sedotan, kan? Nah, kali ini obrolan saya dan anil adalah tentang meminum jus tanpa sedotan. Lho kok?

“Sok atuh, mau ngedongeng apa?” begitu lah jawaban Anil ketika saya menyebutkan bahwa saya ingin mengikuti lomba nokia green ambassador lagi untuk edisi maret.

Apa dong?

“mau gak, tentang kegiatan ngurangin sedotan?”

Boleh

“kalo selama ini beli jus, biasanya gimana penyajiannya”

pake gelas, dikasih sedotan

“kalo yang rada mipir-mipir pinggir jalan kumaha (gimana)? biasanya kan langsung dibungkus pakai plastik ya, gak enak kan kalau minum di pinggir jalan. Plus, malu kali ya nongkrongnya juga . atau yang sedikit kerenan, dibungkus pake gelas plastik yang ada tutupnya itu.” Anil mulai bercerita

“Nah, dulu banget sih, upaya buat ngurangin plastik, yang dilakukan adalah dengan cara mikir-mikir dulu kalau mau beli jus. Berhubung beli nya di pinggir jalan, ada dua pilihan yaitu: dibungkus atau, karena pengen kurangi (pemakaian) plastik, ya udah, nongkrong saja di warungnya si mamang penjual jus. Minta disajikan di gelas.Tapi masalahnya, para pedagang jaman sekarang kadang nggak mau repot dan agak nyusahin. Jadi karena dia nggak mau susah dan repot, dia sama sekali nggak punya stok gelas. Nah, kalau sudah begitu, aku memaksa mamangnya untuk pinjem gelas ke warung/kios sebelah, terserah dia lah, yang pasti kalau nggak dicariin gelas, mending nggak jadi beli. Dengan cara kayak gitu suka berhasil. Mungkin si mamangnya mikir daripada gak jadi beli, mending cari gelas saja.

“Nah itu cerita jaman dulu kala. Sekarang lain lagi” Anil bersemangat

Sekarang emang gimana Nil?

“Ke sini-sininya, aku terinspirasi salah satu temenku di YPBB. Nggak usah sebut nama ya, hehe. Temenku itu dulu seneng dan sering nongkrong atau makan di luar. Nah di acara nongkrong-nongkrong tersebut, dia bareng-bareng sama beberapa orang temennya yang kaya raya. Salah satu kebiasaan yang dia tularkan ke teman-temannya adalah: kalo pesen minuman, pasti dia bilang ke pelayan untuk nggak usah pakai sedotan. Awalnya, temen-temennya nggak peduli. Yang penting, makan bareng dan nongkrong-nongkrong. Tapi lama-lama, kebiasaan itu terbawa jadi semacam kebiasaan di tim nongkrong tersebut.

” Dari cerita dia, aku juga jadi tertular untuk mulai kurangi penggunaan sedotan. Yah, memang terdengar sepele sih. Cuma sedotan!!! Tapi minimal jika aku gak pake sedotan, kemungkinan menumpuknya sampah sedotan bisa berkurang. Sebab sampah sedotan itu tidak dapat dicuci atau digunakan kembali seperti halnya kresek. Seperti yang kita tau, kalo keresek boleh lah dipake ulang. Tapi sedotan pan, enggak ada yang dipake ulang. Bohong banget lah kalo ada yang sampe kayak gitu, secara nyucinya juga susah.”

Terus hubungannya sama kampanyemu apa?

“Jadi kalo kita aja bisa ngurangi sedotan, dan orang lain mau juga kurangi sedotan, harapannya berkuranglah satu jenis plastik yang harus menggunung di TPS, TPA, dll.”

Anil kemudian bertutur bahwa pada suatu kesempatan, dia bersama tim YPBB mengunjungi aceh untuk mengkampanyekan hidup organis dalam sebuah pelatihan lingkungan. Dia bercerita bahwa dia dan kawan-kawan YPBB berusaha untuk transfer nilai tentang pengurangan penggunaan sedotan ini. berdasarkan cerita Anil, dia berangkat ke aceh di akhir tahun 2009. Saat itu, dia dan kawan-kawan YPBB, jika makan di luar, selalu diantar oleh salah satu staff lokal aceh. Setiap makan itu, mereka selalu bilang untuk tidak menggunakan sedotan pada minumannya. Meskipun kadang tidak berhasil, namun Anil dkk cukup konsisten. Sang staf itu mungkin memperhatikan kebiasaan Anil dkk, karena menurut penuturan Anil, ketika kunjungan kedua ke aceh awal 2010 ini, sang staf tersebut sudah terbiasa untuk memesan minuman tanpa sedotan.

“Nah, mungkin kamu ngerasa cerita ini biasa-biasa aja kan? tapi buat ku sih, seneng. soalnya bisa mempengaruhi orang tanpa banyak cingcong. Hanya dengan nyontohin beberapa kali.” Anil berkomentar.

“Kita gak pernah cerita ke dia tentang bahaya plastik bla bla bla….” Tambahnya.

Transfer nilai yang dilakukan Anil dan kawan YPBB ternyata membuahkan hasil. Menularkan pengaruh dengan cara memberi contoh, dan ternyata itu efektif.

Selain tentang sedotan , ada pula obrolan tentang penggunaan kresek. Anil mengingatkan saya untuk tidak menggunakan kresek yang berlebihan karena pada akhirnya ketika kresek sudah menjadi sampah, akan sulit diurai oleh tanah. Butuh waktu ratusan tahun untuk mengurai satu jenis sampah plastik, dibutuhkan waktu penguraian hingga ratusan tahun. Menurut Anil, Sedotan dan kresek adalah sampah yang benar-benar dihasilkan karena kegiatan sesaat namun efeknya bisa sangat lama. Sekarang, saya sedang berusaha untuk mengikuti jejak Anil. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan kresek pada saat berbelanja.

Sekilas apa yang menjadi obrolan saya dan Anil, tampak sederhana. Tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap alam, jika anil dan beberapa temannya tidak menggunakan sedotan. Namun, ketika apa yang dilakukan Anil dan teman-temannya diikuti oleh seribu orang, maka akan ada seribu sedotan yang tidak menumpuk menjadi sampah hasil kegiatan sesaat kita.

Semoga apa yang dicontohkan Anil, menular juga terhadap kita. Sekali lagi, kepedulian terhadap lingkungan bisa dilakukan dengan cara-cara yang sederhana seperti mengurangi penggunaan barang-barang dari plastik. Mengutip kata-kata Anil, ‘mungkin kamu ngerasa cerita ini biasa-biasa aja kan?’ tapi inilah upaya saya untuk menularkan apa yang sedang anil coba tularkan kepada saya. Semoga dengan menuliskan ini, saya jadi punya tanggung jawab lebih untuk mengurangi pemakaian plastik yang hanya akan menjadi sampah.

“Mendingan dikurangin dari awal lah. Daripada pas udah nyampah, bingung kudu diapain.” Begitu nasehat Anil menutup pembicaraan kami sore itu. (HS)

Kaki gunung man-angel, Maret 2010
go green Indonesia!

Senin, 25 Oktober 2010

Menuju ZERO WASTE : kantong plastik kresek (KPK)

Sudah banyak yang tahu bahwa KPK lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Kalau belum tahu, bisa bertanya kepada Mbah Google. Sudah banyak yang ke pasar atau ke supermarket atau ke toko membawa tas sendiri agar dapat membawa belanjaannya tanpa menggunakan KPK pemberian penjual. Tapi tidak sedikit juga orang yang sangat berbaik hati (atau justru tidak baik hati?) memberikan sesuatu kepada kita dalam bungkusan KPK. Atau kurang cepat menolak penjual memasukkan barang dagangannya ke dalam KPK (kebetulan belanjaannya ikan, jadi kalau KPK dikembalikan ke penjual, pasti akan dibuang). Lalu, mau diapakan KPK ini? Ya digunakan lagi.

Cuci dulu KPK seperlunya. Kalau kotoran bisa hilang hanya dengan air saja, kotoran tidak perlu menggunakan sabun. Tampung air pencuci agar dapat digunakan untuk menyiram tanaman. Kalau KPK berminyak atau berbau amis, cuci dengan air lerak. Dengan sedikit air, kotoran dan pembersihnya akan terlepas dari KPK. Airnya juga aman bila disiram ke tanaman, bahkan beberapa jenis hama tanaman akan mati. Lalu dijemur. Setelah kering, KPK dapat digunakan lagi.

Selama KPK belum berlubang, artinya masih bisa dipakai untuk membawa sesuatu yang basah. Kalau sudah berlubang kecil, artinya masih bisa dipakai untuk membawa sesuatu yang padat dengan ukuran yang tidak terlalu kecil tapi tidak terlalu berat sehingga dapat memperbesar robekan. Kalau sudah robek di beberapa bagian, dan tidak memungkinkan dipergunakan lagi sebagai tas barulah bisa dipakai sebagai kantong sampah (memangnya masih ada sampah di rumah?) Bagian yang berlubang diikat dulu dengan karet gelang, supaya sampah tidak berceceran.

Ini teori. Kenyataannya, aku sendiri merasa kesulitan menangani KPK di rumah. Aku selalu membawa tas sendiri saat berbelanja dan menolak KPK dari pedagang. Yang tidak mampu kulakukan adalah menolak KPK dari orang-orang yang memberikan oleh-oleh, buah tangan, atau apalah yang demi kesopanan, dikemas dalam KPK. Kebetulan ada banyak orang di sekeliling keluarga kami yang senang bermurah hati kepada kami. Ada yang punya ide, bagaimana cara menolak KPK seperti ini tanpa menyinggung pemberinya?

Penggunaan singkatan KPK di tulisan ini semata-mata untuk mempermudah penulisan bagiku saja, tanpa maksud merendahkan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang lebih dulu ada dan tentu tidak sesuai dengan pernyataan dalam kalimat pertama dalam tulisan ini. Aku sama sekali tidak menolak keberadaan KPK yang sudah ada lebih dahulu itu.




go green Indonesia!

Kamis, 06 Mei 2010

Tips Warung Hijau : plastik (1)

Tidak perlu dibahas lagi di sini, tentu sudah banyak yang mengetahui kalau kantong kresek itu tidak bersahabat dengan lingkungan. Tapi seringkali ada keadaan yang memaksa kita menerima kantong kresek, contohnya :
1. Penjual sudah mengemas dagangannya dalam kantong kresek. Kalau kita hanya
mengambil isinya, pasti plastik kreseknya akan dibuang oleh penjual.
2. Ada yang memberikan barang, makanan, atau apa sajalah. Tidak sopan bukan bila
kita mengambil isinya saja lalu mengembalikan kantong kreseknya?
3. Kelalaian sendiri saat berbelanja lupa membawa tas, jadi terpaksa menerima
kantong kresek.
4. Tolong bantu ….. apa lagi ya?

Tips : REUSE
Setelah isi dikeluarkan, bersihkan kantong kresek, lipat rapi dan simpan di tempat yang mudah diingat agar mudah mengambilnya lagi untuk dipergunakan lagi. Pakai kantong kresek ini berkali-kali sampai keadaannya sudah tidak layak pakai, baru dimanfaatkan untuk menampung sampah. (Kalau sudah terbiasa memilah sampah, tentu kebutuhan plastik kresek untuk tempat sampah tidak terlalu banyak)


go green Indonesia!

Selasa, 27 Mei 2008

Green tips 27 Mei 2008

Sumber : aku ingin hijau.wordpress.com 16 Maret 2008

Sudah banyak orang yang memberi peringatan, rumor, gosip bahkan artikel majalah tentang bahaya plastik. Tetapi tetap saja hanya segelintir orang yang menggubris, peduli atau sampai meneliti lebih lanjut.

Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu, compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida. Oleh karena itu kita bisa hampir dipastikan pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang mengandung Bisphenol-A. Salah satu barang yang memakai plastik dan mengandung Bisphenol A adalah industri makanan dan minuman sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup makanan, botol air mineral, dan botol bayi walaupun sekarang sudah ada botol bayi dan penyimpan makanan yang tidak mengandung Bisphenol A sehingga aman untuk dipakai makan. Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung Bisphenol-A.

Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai.

Apakah arti dari simbol-simbol yang kita temui pada berbagai produk plastik?

1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Boto-botol dengan bahan #1 dan #2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.

2. HDPE (high density polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti #1 PET, #2 juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.

3. V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.

4. LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode #4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.

5. PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.

6. PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.

7. Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate.

Masih banyak sekali barang plastik yang tidak mencantumkan simbol-simbol ini, terutama barang plastik buatan lokal di Indonesia. Oleh karena itu, kalau anda ragu lebih baik tidak membeli. Kalaupun barang bersimbol lebih mahal, harga tersebut lebih berharga dibandingkan kesehatan keluarga kita.

Pada akhirnya. Hindari penggunaan plastik apapun di Microwave. Gunakan bahan keramik, gelas atau pyrex sebagai gantinya.

Hindari juga membuang sampah plastik terutama yang mengandung Bisphenol-A sembarangan karena bahan tersebut pun bisa mencemari air tanah yang pada akhirnya pun bisa mencemari air minum banyak orang.

Semoga informasi ini bermanfaat.

go green Indonesia!