Pernah dimuat dalam warta jemaat GKI surya Utama
dibangun sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi Ibu Bumi. Karena itu bukan disebut warung merah, meski berwarna merah. Warna merah merujuk pada kondisi Ibu Bumi yang nilainya merah karena sakitnya yang parah, demam tinggi, keracunan, dehidrasi dengan luka di sekujur tubuhnya.
Rabu, 19 Oktober 2011
Reduce, reuse, recycle
Pernah dimuat dalam warta jemaat GKI surya Utama
Rabu, 14 September 2011
Biodegradable plastic bags carry more ecological harm than good
Biodegradable plastic bags – as handed out by Tesco, the Co-op and once even sold by the Soil Association – must be good, surely? They have a magic ingredient that means they self-destruct after a few months, breaking up into tiny pieces made of simple molecules that bugs and fungi can happily munch up. Dozens of major corporations use them, including Pizza Hut, KFC, News international, Walmart and Marriott hotels.
But last week, the European Plastics Recyclers Association warned that they "have the potential to do more harm to the environment than good."
Technically what we are talking about here is "oxo-degradable" plastics. These are plastics made to degrade in the presence of oxygen and sunlight, thanks to the addition of tiny amounts of metals like cobalt, iron or manganese.
British manufacturers – headed by Symphony Technologies of Borehamwood – are at the sharp end of a revolution that could banish bag-strewn beauty spots and back alleys alike.
But the criticisms are twofold. First, some research suggests that the bags don't degrade as well as claimed. And second, priming plastic bags for destruction is itself an ecological crime.
So, do they really biodegrade away to nothing? Symphony, which supplies the Co-op and Tesco, says its bags are "able to degrade completely within about three years, compared to standard bags which take 100 years or longer". Tesco reckons they all decompose within 18 months "without leaving anything that could harm the environment".
But whether it actually happens seems to depend a lot on where the "biodegradable" plastic ends up. If it gets buried in a landfill it probably won't degrade at all because there is no light or oxygen. But what about elsewhere?
Studies of one brand in the US, commissioned by the Biodegradable Products Institute, found that breakdown is very dependent on temperature and humidity. It goes slow in cold weather. And high humidity virtually stops the process, making long, wet winters sound like bad news.
You might think a compost heap full of biodegrading bugs would be ideal. But a recent Swedish study found that polyethylene containing manganese additive stops breaking down when put in compost, probably due to the influence of ammonia or other gases generated by microorganisms in the compost.
And, while most manufacturers say that to put only tiny amounts of metals into the plastic, the US study found that one brand contained "very high levels of lead and cobalt", raising questions about the toxicity of the leftovers. Neither of these studies relates specifically to Symphony's products. But they raise questions.
The European Plastics Recyclers Association last week argued that biodegradable bags are not the right environmental option anyway. Plastic bags take a lot of energy and oil to make so why waste them by creating bags that self-destruct? "It is an economic and environmental nonsense to destroy this value," the recyclers' trade association concluded.
Of course, we consumers can reuse or recycle biodegradable bags as easily as any other kind. Symphony and other manufacturers stress making bags biodegradable is just an insurance policy for those that don't get recycled or reused. But surely we are less likely to bother if we are told the bags are eco-bags that biodegrade.
This European backlash against oxo-biodegradable plastics follows similar rumblings in the US. In March, the New York Times announced it would not be wrapping its paper in bags made of the stuff because claims that the plastic was "100% biodegradable" did not stand up. This followed a ruling last December by an advertising industry watchdog, part of the US Council of Better Business Bureaus, that makers should stop calling the bags "eco-friendly".
(In marked contrast, the UK Periodical Publishers Association two years ago recommended that all its members use oxo-biodegradable film to wrap their magazines)
Industry websites, including Symphony's, do proudly proclaim one green endorsement – that the organic trade body the Soil Association buys their bags. But Clio Turton at the Soil Association told me: "We've had problems with people making these claims. We have asked for them to be removed. It's very frustrating."
Plastic bags are not the biggest environmental issue on the planet, as George Monbiot explained in a blog here recently.
But most of us probably make "bag choices" several times a day. Brits get through 8bn plastic bags a year. For that reason, they are one of the choices that tend to show if we care about the environment or not. And we should be clear. Re-using bags is best. Recycling is second best. Throwing them away in the hope that a magic formula will guarantee their rapid disappearance is laziness, not environmental care. And anybody who tries to persuade us otherwise is guilty of Greenwash.
• This article was amended on Friday 19 June 2009. We should have made clear that the Soil Association no longer sells the biodegradable plastic bags referred to in this article. This has been corrected.
• Do you know of any green claims that deserve closer examination? Email your examples to greenwash@guardian.co.uk or add your comments below
Minggu, 07 Agustus 2011
Menuju Zero Waste : belanja
Sebagian besar sampah dari pasar adalah kemasan. Jadi bawa kemasan sendiri ke pasar. Ini merupakan salah satu alasan pembuatan daftar belanja sebelum pergi ke pasar, selain untuk menghindari belanja berlebihan.
Dengan berpatokan pada daftar belanja, siapkan wadah-wadah yang diperlukan. Saat ini banyak wadah-wadah plastik bermutu tinggi, bersifat food grade dengan warna-warni yang cantik. Ukurannyapun bermacam-macam. Bahkan ada produsen yang memberi jaminan seumur hidup untuk produknya, artinya menerima wadah plastik yang sudah rusak dan memberikan gantinya. Produk-produk ini akan didaur ulang untuk dibuat menjadi wadah yang baru. Wadah-wadah plastik ini bermanfaat untuk membawa bahan makanan yang mengandung air atau berbau amis seperti tahu, ayam, udang, ikan. Juga untuk bahan makanan kering yang berukuran kecil seperti kacang-kacangan, gula, beras, tepung.
Selain wadah-wadah, bawa juga tas-tas kain untuk membawa sayur-sayuran, buah-buahan dan bahan makanan yang sudah dikemas di pabrik. Rantang, perabotan rumah tangga yang nyaris terlupakan pada masa kini juga dapat dimanfaatkan kembali untuk membawa makanan matang yang akan dibeli di pasar.
Tas-tas kain dan wadah-wadah yang dibawa akan mengurangi banyak sampah dapur. Sampah yang tersisa adalah potongan-potongan sayur dan kulit buah yang bisa dibuat kompos. Sampah lainnya plastik kemasan minyak, kecap, kembang tahu, susu, botol-botol kaca, kaleng yang bisa dikumpulkan dalam keadaan bersih dan diberikan kepada pemulung untuk didaur ulang. Lerak dapat digunakan untuk membersihkan kemasan-kemasan ini dan hanya memerlukan sedikit air untuk membilasnya.
Pada awalnya memang agak merepotkan. Misalnya, perlu sedikit ngotot kepada penjual agar mau menimbang bahan makanan di dalam wadah yang Anda sodorkan. Mungkin juga cara menimbang yang aneh ini membuat penjual enggan melayani Anda karena menyita waktunya. Jadi, pilih penjual yang sedang tidak melayani banyak pembeli.
Kerepotan lain, perlu kewaspadaan agar tidak keduluan penjual memuat barang belanjaan ke dalam kantong plastik miliknya. Kalau sudah kejadian, sekalipun kantong plastik ini dikembalikan, penjual tidak akan menggunakannya lagi melainkan membuangnya. Sama juga bo’ong, jadi sampah juga!
Namun, setelah berulang-ulang melihat hal yang sama, penjual akan terbiasa bahkan lebih percaya kepada Anda. Misalnya saat Anda memilih baso dan memasukkannya ke dalam wadah, penjual tidak akan menghitung lagi jumlahnya. Tidak jarang penjual memberikan bonus atau potongan harga karena kantong plastiknya tidak dipakai. Sama seperti tawar-menawar harga, tawar-menawar penggunaan wadah lebih mudah dilakukan di pasar dibandingkan di supermarket, karena semua produk sudah diberi kemasan di supermarket. Jadi lebih mudah mengurangi sampah dengan berbelanja di pasar.
Mari mengurangi sampah dengan gaya berbelanja bebas sampah.
Jumat, 10 Desember 2010
Belajar mengelola sampah dari Takakura lagi
Kejutan! Ternyata kompos sudah jadi, tidak berbau dan bebas belatung! Rupanya dengan mendiamkannya selama 1 hingga 2 bulan setelah kompos matang, belatung-belatung raksasa, salah satu produk tambahan yang kutemukan saat panen yang lalu, menjadi mati.
Pelajaran dari keranjang takakura kemarin :
- Tidak perlu buru-buru memanen takakura.
- Buat lebih dari satu keranjang takakura untuk menambah "nutrisi" kompos berupa protein yang berasal dari belatung.
Rabu, 27 Oktober 2010
Anilawati Nurwakhidin, calon guru yang jadi aktifis lingkungan
Anil adalah salah satu teman lama saya semasa kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri pencetak calon guru di Bandung. Karena kecintaannya terhadap lingkungan, dan berkat dorongan dari hati untuk melakukan sesuatu untuk lingkungan, maka jadilah anil bekerja pada sebuah lembaga non profit peduli lingkungan bernama YPBB. Bersama YPBB, Anil berusaha untuk mengkampanyekan hidup organis dan berkontribusi untuk alam dengan cara tidak menambah beban sampah untuk bumi ini.
Beberapa hari yang lalu, saya kembali mengobrol dengan anil, dan topik obrolan kali ini adalah seputar minum jus dan sedotan.
Anda pasti pernah minum jus bukan? Entah di rumah, café, rumah makan, warung nasi, hingga warung pinggir jalan pasti anda pernah meminum jus. Bagaimanakah penyajian jus favorit anda? Pasti semuanya disajikan dalam gelas kemudian diberi sedotan, kan? Nah, kali ini obrolan saya dan anil adalah tentang meminum jus tanpa sedotan. Lho kok?
“Sok atuh, mau ngedongeng apa?” begitu lah jawaban Anil ketika saya menyebutkan bahwa saya ingin mengikuti lomba nokia green ambassador lagi untuk edisi maret.
Apa dong?
“mau gak, tentang kegiatan ngurangin sedotan?”
Boleh
“kalo selama ini beli jus, biasanya gimana penyajiannya”
pake gelas, dikasih sedotan
“kalo yang rada mipir-mipir pinggir jalan kumaha (gimana)? biasanya kan langsung dibungkus pakai plastik ya, gak enak kan kalau minum di pinggir jalan. Plus, malu kali ya nongkrongnya juga . atau yang sedikit kerenan, dibungkus pake gelas plastik yang ada tutupnya itu.” Anil mulai bercerita
“Nah, dulu banget sih, upaya buat ngurangin plastik, yang dilakukan adalah dengan cara mikir-mikir dulu kalau mau beli jus. Berhubung beli nya di pinggir jalan, ada dua pilihan yaitu: dibungkus atau, karena pengen kurangi (pemakaian) plastik, ya udah, nongkrong saja di warungnya si mamang penjual jus. Minta disajikan di gelas.Tapi masalahnya, para pedagang jaman sekarang kadang nggak mau repot dan agak nyusahin. Jadi karena dia nggak mau susah dan repot, dia sama sekali nggak punya stok gelas. Nah, kalau sudah begitu, aku memaksa mamangnya untuk pinjem gelas ke warung/kios sebelah, terserah dia lah, yang pasti kalau nggak dicariin gelas, mending nggak jadi beli. Dengan cara kayak gitu suka berhasil. Mungkin si mamangnya mikir daripada gak jadi beli, mending cari gelas saja.
“Nah itu cerita jaman dulu kala. Sekarang lain lagi” Anil bersemangat
Sekarang emang gimana Nil?
“Ke sini-sininya, aku terinspirasi salah satu temenku di YPBB. Nggak usah sebut nama ya, hehe. Temenku itu dulu seneng dan sering nongkrong atau makan di luar. Nah di acara nongkrong-nongkrong tersebut, dia bareng-bareng sama beberapa orang temennya yang kaya raya. Salah satu kebiasaan yang dia tularkan ke teman-temannya adalah: kalo pesen minuman, pasti dia bilang ke pelayan untuk nggak usah pakai sedotan. Awalnya, temen-temennya nggak peduli. Yang penting, makan bareng dan nongkrong-nongkrong. Tapi lama-lama, kebiasaan itu terbawa jadi semacam kebiasaan di tim nongkrong tersebut.
” Dari cerita dia, aku juga jadi tertular untuk mulai kurangi penggunaan sedotan. Yah, memang terdengar sepele sih. Cuma sedotan!!! Tapi minimal jika aku gak pake sedotan, kemungkinan menumpuknya sampah sedotan bisa berkurang. Sebab sampah sedotan itu tidak dapat dicuci atau digunakan kembali seperti halnya kresek. Seperti yang kita tau, kalo keresek boleh lah dipake ulang. Tapi sedotan pan, enggak ada yang dipake ulang. Bohong banget lah kalo ada yang sampe kayak gitu, secara nyucinya juga susah.”
Terus hubungannya sama kampanyemu apa?
“Jadi kalo kita aja bisa ngurangi sedotan, dan orang lain mau juga kurangi sedotan, harapannya berkuranglah satu jenis plastik yang harus menggunung di TPS, TPA, dll.”
Anil kemudian bertutur bahwa pada suatu kesempatan, dia bersama tim YPBB mengunjungi aceh untuk mengkampanyekan hidup organis dalam sebuah pelatihan lingkungan. Dia bercerita bahwa dia dan kawan-kawan YPBB berusaha untuk transfer nilai tentang pengurangan penggunaan sedotan ini. berdasarkan cerita Anil, dia berangkat ke aceh di akhir tahun 2009. Saat itu, dia dan kawan-kawan YPBB, jika makan di luar, selalu diantar oleh salah satu staff lokal aceh. Setiap makan itu, mereka selalu bilang untuk tidak menggunakan sedotan pada minumannya. Meskipun kadang tidak berhasil, namun Anil dkk cukup konsisten. Sang staf itu mungkin memperhatikan kebiasaan Anil dkk, karena menurut penuturan Anil, ketika kunjungan kedua ke aceh awal 2010 ini, sang staf tersebut sudah terbiasa untuk memesan minuman tanpa sedotan.
“Nah, mungkin kamu ngerasa cerita ini biasa-biasa aja kan? tapi buat ku sih, seneng. soalnya bisa mempengaruhi orang tanpa banyak cingcong. Hanya dengan nyontohin beberapa kali.” Anil berkomentar.
“Kita gak pernah cerita ke dia tentang bahaya plastik bla bla bla….” Tambahnya.
Transfer nilai yang dilakukan Anil dan kawan YPBB ternyata membuahkan hasil. Menularkan pengaruh dengan cara memberi contoh, dan ternyata itu efektif.
Selain tentang sedotan , ada pula obrolan tentang penggunaan kresek. Anil mengingatkan saya untuk tidak menggunakan kresek yang berlebihan karena pada akhirnya ketika kresek sudah menjadi sampah, akan sulit diurai oleh tanah. Butuh waktu ratusan tahun untuk mengurai satu jenis sampah plastik, dibutuhkan waktu penguraian hingga ratusan tahun. Menurut Anil, Sedotan dan kresek adalah sampah yang benar-benar dihasilkan karena kegiatan sesaat namun efeknya bisa sangat lama. Sekarang, saya sedang berusaha untuk mengikuti jejak Anil. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan kresek pada saat berbelanja.
Sekilas apa yang menjadi obrolan saya dan Anil, tampak sederhana. Tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap alam, jika anil dan beberapa temannya tidak menggunakan sedotan. Namun, ketika apa yang dilakukan Anil dan teman-temannya diikuti oleh seribu orang, maka akan ada seribu sedotan yang tidak menumpuk menjadi sampah hasil kegiatan sesaat kita.
Semoga apa yang dicontohkan Anil, menular juga terhadap kita. Sekali lagi, kepedulian terhadap lingkungan bisa dilakukan dengan cara-cara yang sederhana seperti mengurangi penggunaan barang-barang dari plastik. Mengutip kata-kata Anil, ‘mungkin kamu ngerasa cerita ini biasa-biasa aja kan?’ tapi inilah upaya saya untuk menularkan apa yang sedang anil coba tularkan kepada saya. Semoga dengan menuliskan ini, saya jadi punya tanggung jawab lebih untuk mengurangi pemakaian plastik yang hanya akan menjadi sampah.
“Mendingan dikurangin dari awal lah. Daripada pas udah nyampah, bingung kudu diapain.” Begitu nasehat Anil menutup pembicaraan kami sore itu. (HS)
Kaki gunung man-angel, Maret 2010
Senin, 25 Oktober 2010
Kata-kata bijak Warung Hijau - ibu bumi
Menuju ZERO WASTE : kantong plastik kresek (KPK)
Sudah banyak yang tahu bahwa KPK lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Kalau belum tahu, bisa bertanya kepada Mbah Google. Sudah banyak yang ke pasar atau ke supermarket atau ke toko membawa tas sendiri agar dapat membawa belanjaannya tanpa menggunakan KPK pemberian penjual. Tapi tidak sedikit juga orang yang sangat berbaik hati (atau justru tidak baik hati?) memberikan sesuatu kepada kita dalam bungkusan KPK. Atau kurang cepat menolak penjual memasukkan barang dagangannya ke dalam KPK (kebetulan belanjaannya ikan, jadi kalau KPK dikembalikan ke penjual, pasti akan dibuang). Lalu, mau diapakan KPK ini? Ya digunakan lagi.
Cuci dulu KPK seperlunya. Kalau kotoran bisa hilang hanya dengan air saja, kotoran tidak perlu menggunakan sabun. Tampung air pencuci agar dapat digunakan untuk menyiram tanaman. Kalau KPK berminyak atau berbau amis, cuci dengan air lerak. Dengan sedikit air, kotoran dan pembersihnya akan terlepas dari KPK. Airnya juga aman bila disiram ke tanaman, bahkan beberapa jenis hama tanaman akan mati. Lalu dijemur. Setelah kering, KPK dapat digunakan lagi.
Selama KPK belum berlubang, artinya masih bisa dipakai untuk membawa sesuatu yang basah. Kalau sudah berlubang kecil, artinya masih bisa dipakai untuk membawa sesuatu yang padat dengan ukuran yang tidak terlalu kecil tapi tidak terlalu berat sehingga dapat memperbesar robekan. Kalau sudah robek di beberapa bagian, dan tidak memungkinkan dipergunakan lagi sebagai tas barulah bisa dipakai sebagai kantong sampah (memangnya masih ada sampah di rumah?) Bagian yang berlubang diikat dulu dengan karet gelang, supaya sampah tidak berceceran.
Ini teori. Kenyataannya, aku sendiri merasa kesulitan menangani KPK di rumah. Aku selalu membawa tas sendiri saat berbelanja dan menolak KPK dari pedagang. Yang tidak mampu kulakukan adalah menolak KPK dari orang-orang yang memberikan oleh-oleh, buah tangan, atau apalah yang demi kesopanan, dikemas dalam KPK. Kebetulan ada banyak orang di sekeliling keluarga kami yang senang bermurah hati kepada kami. Ada yang punya ide, bagaimana cara menolak KPK seperti ini tanpa menyinggung pemberinya?
Penggunaan singkatan KPK di tulisan ini semata-mata untuk mempermudah penulisan bagiku saja, tanpa maksud merendahkan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang lebih dulu ada dan tentu tidak sesuai dengan pernyataan dalam kalimat pertama dalam tulisan ini. Aku sama sekali tidak menolak keberadaan KPK yang sudah ada lebih dahulu itu.