Jumat, 15 Januari 2010

TAKAKURA, SARANA BELAJAR TENTANG SAMPAH



Sudah 2 kali aku melakukan panen kompos dari keranjang Takakura-ku. Setelah beberapa bulan bergaul dengan Takakura, aku mendapat beberapa pelajaran tentang sampah. Berikut ini adalah kesaksianku mengolah sampah dengan keranjang Takakura.

Proses pembusukan

Proses pembusukan sampah dalam keranjang Takakura berlangsung cepat, karena bercampur dengan starter yang jumlahnya lebih banyak dibanding jumlah sampah. Bahan-bahan yang tidak terlalu keras seperti kulit pisang atau papaya dapat membusuk dalam 1 hari. Bahan-bahan lain yang lebih keras membusuk sekitar 2 sampai 3 hari setelah dimasukkan.

Yang menjadi petunjuk terjadinya proses pembusukan adalah udara yang terasa hangat di atas tumpukan sampah pada saat keranjang dibuka. Bila terlalu basah, biasanya tidak terasa hangat. Untuk mengatasinya cukup dengan menambahkan sekam atau serutan kayu ke dalam sampah. Untungnya, hingga saat ini aku masih bisa mendapatkan sekam gratis dari pedagang telur di pasar.

Karena berbentuk keranjang, lubang-lubang yang ada memungkinkan terjadinya sirkulasi udara yang baik di dalam keranjang. Banyak oksigen yang masuk, sehingga bakteri pembusuk yang hidup di dalamnya adalah bakteri aerob (bakteri yang hidup dalam lingkungan yang mengandung oksigen). Bakteri aerob tidak menimbulkan bau, sehingga sampah yang membusuk tidak mengeluarkan bau. Tidak cukup dengan mengandalkan lubang-lubang di keranjang, sampah di dalamnyapun harus diaduk-aduk setiap hari supaya udara dapat masuk ke bagian bawah.

Perawatan keranjang

Saat jumlah sampah yang dimasukkan ke dalam keranjang semakin banyak, kadangkala kelembaban sulit terkontrol, terutama di bagian bawah. Hal ini disebabkan karena sekop pangaduk tidak dapat mencapai dasar kardus, padahal salah satu sifat air adalah mencari tempat yang lebih rendah. Aku menyimpulkan , pada kondisi inilah bantalan sekam menjalankan perannya, yaitu menyerap tetesan air. Karena itu bantalan sekam tidak boleh tanggung-tanggung kepadatannya. Makin jarang isinya, makin cepat kardus harus diganti. Kalau bantalan sekam sudah jenuh air, maka air yang berwarna kecoklatan menetes ke bawah keranjang. Entah ada hubungannya atau tidak, pada saat yang bersamaan mulai banyak semut yang menghampiri keranjang. Selain itu, kardus yang dipakai untuk wadah sampah menjadi basah dan lama kelamaan hancur. Inilah tanda bagiku untuk memanen kompos dan mengganti kardus. Membiarkan kondisi seperti ini lebih lama lagi akan membuat keranjang Takakura tak ada bedanya dengan tempat sampah biasa yang menumpuk ketika tukang sampah libur beberapa hari.

Produk tambahan

Ada produk tambahan selain pupuk kompos yang dihasilkan dalam keranjang Takakura, yaitu belatung. Menurutku, hal ini tidak terhindarkan, karena lalat-lalat kecil dapat masuk melalui lubang-lubang keranjang. Selain itu, sampah sudah mengandung telur-telur serangga sebelum dimasukkan ke dalam keranjang. Panas yang ditimbulkan dalam proses pembusukan tidak cukup tinggi untuk mematikan belatung-belatung ini.
Karena berada di lumbung makanan, belatung-belatung ini dapat tumbuh menjadi sangat besar, hingga mencapai ukuran 1,5 cm atau 2 cm. Ada juga yang sudah bermetamorfosis menjadi lalat bongsor. Mungkin karena pertumbuhan yang tidak normal, untungnya, lalat-lalat ini tidak mampu terbang bahkan setelah berjalan beberapa sentimeter, langsung mati. Aku menyiasati belatung-belatung ini dengan cara memasukkan panenan kompos ke dalam kantung plastik dan mengikatnya erat-erat selama beberapa hari , sebelum dijemur. Akibatnya belatung-belatung menjadi teler dan mudah dimatikan, bahkan ada yang mati sendiri. Mayat-mayat belatung kucampurkan ke dalam pupuk dan menjadi sumber zat hara tersendiri bagi kompos.

Produk tambahan lain adalah gulma. Dulu aku mengira biji-biji melon akan membusuk dan mati bila dimasukkan ke dalam keranjang. Ternyata tidak. Begitu dipanen, sebagian kompos langsung kumasukkan ke dalam pot-pot adeniumku. Dalam beberapa hari, muncul kecambah-kecambah di pot-pot tersebut. Rupanya biji-biji melon itu masih hidup. Selanjutnya aku tidak lagi memasukkan biji melon dan biji buah lain ke dalam keranjang.

Tidak seperti yang ada di teori, keranjang Takakura di rumahku tidak bisa menunggu hingga 3 bulan untuk dipanen. Sekitar 2 bulan, keranjang sudah penuh atau kardus sudah hancur karena basah. Sebentar lagi aku akan melakukan panen kompos ketiga, sementara hasil panen yang lalu belum bisa disimpan di tempat yang rapat karena masih basah. Saat ini masih musim hujan, jarang ada kesempatan untuk menjemur kompos hingga benar-benar kering. Ada yang butuh kompos?


go green Indonesia!

DIET RENDAH KARBON

Sudah banyak orang mengenal istilah diet rendah kalori, diet rendah lemak , diet rendah gula maupun diet tinggi serat dan menjadikannya sebagai gaya hidup sehatnya. Semuanya merujuk pada pola makan sehat untuk menghindari penyakit-penyakit degeneratif. Bagaimana dengan diet rendah karbon? Mudah-mudahan tulisan ini memberi insipasi untuk memilih diet rendah karbon sebagai salah satu gaya hidup untuk menciptakan lingkungan sehat yang akan diwariskan kepada anak-cucu.

Berbeda dengan diet-diet yang disebut di awal tulisan ini, diet rendah karbon bukanlah diet yang dibuat dengan menghitung unsur-unsur nutrisi yang masuk ke dalam tubuh kita. Yang dihitung dalam diet rendah karbon adalah emisi gas rumah kaca yang kita hasilkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap karbon yang dikeluarkan menciptakan jejak karbon. Keberhasilan diet rendah karbon dilihat dari makin kecilnya jejak karbon yang kita buat. Umumnya, jejak karbon dihasilkan oleh semua proses yang menggunakan bahan bakar fosil. Termasuk di antaranya adalah bensin, solar, batubara, elpiji.

Hal sederhana yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan alat transportasi. Hingga saat ini, seluruh kendaraan bermotor di Indonesia masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energi. Pertimbangkan lebih dahulu rencana bepergian untuk menentukan perlu tidaknya membawa kendaraan bermotor. Ada pilihan-pilihan sarana transportasi lain selain membawa sendiri kendaraan bermotor. Berjalan kaki adalah salah satunya dan sama sekali tidak meninggalkan jejak karbon.
Hal sederhana lain adalah penggunaan listrik. Hampir 70% listrik di Indonesia masih bersumber dari bahan bakar fosil (batu bara dan minyak bumi). Karena itu penggunaan alat listrik yang bijaksana bukan hanya mengirit biaya bulanan, tapi juga mengurangi jejak karbon.

Bila dirunut lebih jauh, hampir seluruh proses hidup yang kita jalani meninggalkan jejak karbon. Mulai saja dari menu yang tersedia di meja makan. Nasi yang menjadi bahan pokok berasal dari pertanian, yang lokasinya bisa saja puluhan kilometer dari tempat kita tinggal dan untuk mengangkutnya memerlukan bahan bakar fosil. Pertanian memerlukan pupuk yang diproduksi oleh pabrik yang berlokasi puluhan kilometer juga. Diperlukan bahan bakar fosil untuk mengoperasikan pabrik pupuk dan mengangkut pupuk ke lokasi pertanian.

Demikian pula halnya proses produksi sayur mayur dan buah-buahan. Pilihan beras, sayur dan buah organik yang dihasilkan oleh pertanian yang berlokasi tidak jauh tentu mereduksi cukup banyak jejak karbon. Pertanian organik tidak tergantung pada keberadaan pabrik pupuk sintetis. Penggunaan beras, sayur dan buah lokal juga mengurangi jejak karbon karena tidak diperlukan alat transportasi yang mengangkutnya.
Bergeser sedikit, ke kamar mandi. Kebiasaan penggunaan pemanas air listrik maupun gas untuk mandi perlu dipikir ulang. Hidup di negara tropis sebetulnya telah membuat air cukup hangat untuk mandi orang sehat. Alangkah mubazirnya penggunaan pemanas air yang listriknya terus dalam posisi “stand-by”.

Masih di tempat yang sama, liriklah tempat tissue. Saat ini “toilet tissue” umumnya menjadi salah satu pengisi daftar belanja bulanan. Tissue terbuat dari bubur kertas yang dihasilkan dari batang-batang pohon yang ditebang. Deforestasi mengurangi daya serap karbon yang ada di udara, sementara emisi karbon terus meningkat. Jejak karbon tak terhapuskan. Penggunaan handuk berbahan katun yang dapat dicuci dan dipakai ulang tentu lebih bijaksana.

Kalau mau diteruskan, tulisan ini tentunya akan menjadi tulisan nyinyir yang seolah-olah menyesali modernitas. Bukan itu maksud tulisan ini dibuat, tapi untuk mengajak “berpikir global, bertindak lokal”. Hal-hal kecil yang menjadi pilihan kita sesungguhnya berpengaruh secara global bila dilakukan secara massal. Masalah global sekarang ini adalah peningkatan suhu rata-rata bumi. Mari bersama-sama melakukan hal-hal kecil dengan lebih bijak.

Kearifan suku Amungme di Papua Barat yang menjadikan tanah sebagai ibu kandung mereka bisa menjadi sumber inspirasi kita. Ibu Bumi saat ini sudah tua dan sedang sakit parah, nyaris sekarat. Seluruh sumber daya yang dikandungnya dieksploitasi anak-anaknya yang hidup di sekujur tubuhnya. Nafasnya sesak karena emisi yang dihasilkan anak-anaknya memenuhi atmosfernya. Tubuhnya mengering dan kepanasan karena lapisan tabir surya yang meliputi tubuhnya berlubang. Kalau masih ada cinta kepada Ibu Bumi, ibu kita semua, mari kita menjalani diet rendah karbon agar Ibu Bumi tidak makin menderita di akhir hidupnya. Diet rendah karbon bagi kesehatan Ibu Bumi.

go green Indonesia!

Rabu, 09 Desember 2009

Kulit pisang dan teman-temannya

KULIT PISANG DAN TEMAN-TEMANNYA

Kulit pisang mungkin salah satu jenis pengisi tempat sampah rumah tangga kita hari ini. Bersama batang dan akar bayam, bonggol jagung, tulang ayam, kulit ari bawang dan nasi basi sisa semalam, kantung plastik sampah sudah penuh. Kantung plastik kemudian diikat dengan rapi supaya tidak ada yang tercecer dan dibawa ke bak sampah di depan rumah. Selesai! Hari ini rumah sudah bersih dari sampah. Setelah itu adalah bagian petugas kebersihan.

Demikian cara berpikir kita selama ini. Dan kita merasa tidak ada masalah yang muncul setelah itu. Masalah hanya muncul satu kali dalam setahun, yaitu saat petugas kebersihan cuti lebaran. Sampah yang menumpuk di bak sampah mulai mengeluarkan bau tidak sedap. Eh… bukan satu kali….. rupanya ada masalah lain. Masalah gara-gara si Bleki, anjing tetangga mengorek-ngorek bak sampah. Duh! Sampah jadi berantakan di jalan!

Lalu bagaimana dengan hujan deras selama 15 menit yang menimbulkan banjir gara-gara saluran tersumbat sampah? Masih ingat tumpukan sampah di Leuwigajah yang longsor beberapa tahun yang lalu? Tentang penyakit gatal-gatal penduduk di sekitar TPA Bantar Gebang? Semuanya berawal dari sampah rumah tangga.

Mengeluarkan sampah dari rumah kita bukan berarti masalah sampah selesai. Beberapa masalah di atas hanyalah beberapa masalah sampah yang nyata. Masalah yang sebetulnya berawal dari masalah dari rumah kita. Artinya kalau kita bisa menyelesaikan masalah sampah sendiri di rumah, kita memperkecil munculnya masalah-masalah di atas.

70% sampah rumah tangga berasal dari dapur, yaitu kulit pisang dan teman-temannya. Sampah jenis ini tergolong sampah organik, artinya dapat hancur sendiri di alam. Yang termasuk sampah organik adalah kulit buah-buahan, batang sayur-mayur, tulang ayam, sapi dan daging lainnya, duri ikan, kulit udang, kulit telur, daun pembungkus makanan, juga sisa makanan basi. Pada prinsipnya, semua sisa bahan pangan digolongkan sebagai sampah organik.

Karena sifatnya yang dapat hancur sendiri di alam, kita dapat mengembalikannya sendiri ke alam, bukan membuangnya ke bak sampah. Dengan memasukkannya ke dalam lubang resapan biopori atau mengolahnya menjadi kompos dalam keranjang takakura, kita telah mengurangi 70% sampah kita. Artinya, kalau biasanya setiap hari kita menciptakan 1 kantong sampah, dengan mengolah sendiri sampah organik kita, sampah kita berkurang menjadi 1 kantong dalam 3 hari.

Selain mengurangi jumlah sampah, tindakan mengembalikan sampah organik ke alam akan memberikan dampak lain. Dengan tidak membiarkan sampah organik menumpuk di tempat terbuka, kita mengurangi pembuangan gas-gas karbondioksida, karbonmonoksida, nitrogen oksida dan metana ke udara yang menimbulkan efek rumah kaca pada bumi kita. Sebaliknya, unsur-unsur karbon dan nitrogen sebagai pembentuk gas-gas tadi akan terserap ke tanah dan memperkaya tanah dan menghidupkan makhluk-makhluk di dalam tanah. Dengan sendirinya tanah menjadi subur dan akan menghasilkan tanaman yang indah.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Ibu Sud, pencipta banyak lagu-lagu anak yang indah dan edukatif, ada baiknya kita melupakan salah satu lagunya : KERANJANG SAMPAH

bila kumakan pisang tidak dengan kulitnya
kulit kulempar k’ranjang
k’ranjang apa namanya?
k’ranjang sampah namanya

agar anak-anak kita tidak lagi dibiasakan membuang kulit pisang ke keranjang sampah, tapi mengembalikannya ke bumi.

go green Indonesia!

Selasa, 13 Oktober 2009

BAWA SAMPAH HARUS BAYAR

Ada yang menarik di lokasi wisata air terjun Erawan, Thailand bagian barat. Yang ditawarkan oleh tempat wisata ini adalah perjalanan menyusuri tepi sungai dan air terjun yang terdiri atas 7 tingkat mulai dari tingkat terbawah. Masing-masing tingkat berketinggian antara 1 hingga 5 meter. Dibanding air terjun Cibeureum atau Grojogan Sewu, sebetulnya curahan air terjun Erawan kalah dahsyat. (Alam Indonesia memang fantastik!) Namun sangat terpelihara keasrian dan keasliannya. Tidak nampak bekas-bekas usaha paksa untuk mengubah jalan setapak supaya mudah ditempuh. Dan hebatnya, meskipun tidak tersedia tempat sempah, tidak ada botol plastik atau kaleng bekas kemasan air minum dan bungkusan bekas snack di sepanjang perjalanan hingga tingkat ketujuh air terjun. Jumlah pengunjung cukup banyak, tidak seperti di air terjun Hin Lat di Koh Samui misalnya. Artinya cukup besar sampah yang dibawa ke air terjun Erawan. Rupanya membawa sampah bukan berarti membuat tempat wisata menjadi tempat sampah!

Dalam perjalanan menjelang tingkat pertama air terjun, ada perhentian bagi wisatawan. Di tempat ini, ada sebuah meja panjang tempat melaporkan bawaan setiap wisatawan. Bawaan ini bisa dititipkan, bisa juga tetap dibawa ke atas. Wisatawan diminta meninggalkan minimal 20 Baht (kira-kira Rp 6.000,-) untuk setiap plastik yang akan dibawa ke atas. Setelah turun, uang ini akan dikembalikan apabila plastik yang tadi dibawa masih ada. Tidak ada pemeriksaan ketat terhadap bawaan. Namun hal ini rupanya cukup menimbulkan rasa malu bagi wisatawan untuk membuang sampahnya di tengah perjalanan. Bawa sampah harus bayar. Hal yang menarik dan sebetulnya cukup mudah dilakukan.

Beberapa hari yang lalu aku menemukan istilah baru : Polluter pays principle. Sebuah aturan yang mengharuskan seseorang membayar untuk tindakan merusak alam yang dilakukannya. Dana yang terkumpul digunakan untuk pemulihan lingkungan.

Hal ini mengingatkanku pada cerita Lily tentang awal mulanya melakukan bisnis pupuk kompos. Dia bertemu dengan temannya yang memiliki peternakan dan harus membayar mahal untuk membuang kotoran yang dihasilkan ternaknya. (Hal ini kemudian mendorongnya untuk memulai bisnis mengolah kotoran itu menjadi pupuk kompos). Hal yang sama, bawa sampah harus bayar. Tapi mengingat budaya premanisme di Indonesia, aku menduga hal tadi bukan penerapan Polluter pays principle.

Rasanya belum ada kebijakan di Indonesia yang menerapkan Polluter pays principle. Saat ini di sebuah milis "hijau" sedang ramai didiskusikan penggunaan kantong plastik untuk belanja. Yang membuat kantong plastik lebih dipilih untuk membawa barang belanjaan adalah tersedianya kantong plastik gratis di setiap toko. Seandainya ada peraturan yang mengharuskan pembayaran yang cukup bermakna nilainya (bukan sekedar biaya produksi) untuk setiap kantong plastik yang diambil, tentu banyak orang akan memilih membawa tas sendiri untuk berbelanja daripada membeli kantong plastik.

Tidak perlu menunggu peraturan yang cukup "hijau". Aku bisa mengatur diri sendiri. Sejak mengetahui efek dahsyat sampah plastik, aku sedikit phobia terhadap plastik. Ada rasa cemas di dalam hati setiap kali berada dalam situasi terpaksa menerima kantong plastik. Aku membiasakan diri membawa tas setiap kali pergi untuk membeli sesuatu agar tidak menerima kantong plastik. Sebisa mungkin, aku menyimpan kantong plastik yang kudapat untuk digunakan kembali. Termasuk kantong yang dipakai untuk membawa udang,ikan dan bahan makananan mentah basah lainnya. Jangan heran bila melihat ada kantong-kantong plastik habis dicuci tergantung di jemuran rumahku. Kantong-kantong plastik ini kusimpan dan kubawa lagi pada saat berbelanja.
Ini adalah kondisi kantong plastik yang kuanggap cukup layak untuk menjadi tempat penampung sampah yang tidak bisa didaur ulang atau dibuat pupuk di keranjang Takakura-ku. Sudah banyak lubang, sehingga perlu diikat dengan karet gelang. Cukup layak untuk membuang sampah rumah tanggaku yang jumlahnya tidak terlalu banyak. 1 kantong untuk 7 hingga 10 hari.


go green Indonesia!

Selasa, 01 September 2009

Keranjang Takakura, cara cepat dan bersih membuat kompos rumah tangga

Saat aku kewalahan dengan penuhnya beberapa Lubang Resapan Biopori (LRB) oleh sampah dapurku, aku membuka-buka lagi situs-situs web tentang mengolah sampah yang sempat kusimpan di bookmark yahoo websiteku. Kutemukan manual TAKAKURA . Petunjuk di file ini betul-betul jelas, sehingga mudah diikuti.

Singkatnya, keranjang Takakura adalah alat yang diciptakan oleh seorang berkebangsaan Jepang bernama Koji Takakura untuk mengkompos sampah organik skala rumah tangga. Proses pengomposan dengan keranjang Takakura tidak menimbulkan bau, tidak mengeluarkan air lindi yang mengotori daerah di sekitar keranjang. Karena bersih dan tidak berbau, keranjang Takakura dapat diletakkan di dalam rumah.

Keranjang Takakura terdiri atas beberapa bagian, yaitu keranjang bertutup (bisa menggunakan laundry box), kardus bekas mi instan atau air minum dalam kemasan, bantalan sekam, kain penutup dan starter kompos yang terdiri atas campuran kompos jadi, sekam dan serutan kayu.

Starter kompos diisikan ke dalam kardus, yang sudah diberi lubang-lubang untuk sirkulasi udara, setinggi 2/3 tinggi kardus. Pada dasar keranjang diletakkan bantalan sekam untuk mencegah lalat masuk dan bertelur di dalamnya. Kemudian di atasnya diletakkan kardus berisi starter kompos. Di atas starter kompos diletakkan lagi bantalan sekam. Lalu ditutup selembar kain, baru kemudian keranjang ditutup. Keranjang diletakkan di atas batu-bata untuk sirkulasi udara di bawah keranjang.

Pengomposan di dalam keranjang ini terjadi secara aerob, karena itu harus ada sirkulasi udara segar. Sampah dapur dimasukkan ke dalam kardus dan diaduk menjadi satu dengan starter. Yang menjadi penanda bahwa pengomposan terjadi adalah hangatnya campuran sampah dan starter. Campuran ini harus mengandung 30% air, jadi tidak boleh terlalu kering, tidak boleh terlalu basah.

Proses pengomposan berlangsung cepat. Jadi meskipun ruang yang tersedia hanya 1/3 kardus, ruangan ini baru akan penuh setelah 3 bulan dengan pengisian sampah dapur 1 kg perhari.

Saat ini, aku membuang sampah dapur yang agak keras, seperti bonggol jagung, bonggol sisir pisang dan tulang ikan ke LRB. Sedangkan sampah dapur lainya, setelah dipotong kecil-kecil (kebiasaan memotong sampah dapur menjadi kecil-kecil sudah kulakukan selama 1,5 tahun ini agar sampah mudah dimasukkan ke dalam LRB), kumasukkan ke dalam keranjang Takakura.

Keranjang Takakuraku sudah berumur 1 minggu. Selama ini, setiap hari aku memeriksa kehangatannya dan kelembabannya, kondisinya baik terus. Mudah-mudahan proyekku kali ini berhasil.


go green Indonesia!

Lubang Resapan Bioporiku setelah 1,5 tahun

Beberapa bulan terakhir, aku kesulitan membuang sampah dapur. Sejumlah Lubang Resapan Biopori (LRB) yang kubuat 1,5 tahun yang lalu di halaman depan pagar sepertinya sudah penuh, tidak dapat diisi lagi. Permukaannya keras, bahkan beberapa LRB telah ditutup dengan tanah karena kupikir tidak bisa memuat sampah lagi.

Sempat beberapa kali aku membuat LRB baru di halaman sebelah dalam pagar. LRB itulah yang terus kuisi selama bulan-bulan terakhir ini. Tapi lama kelamaan penuh juga, dan bila kutambah sampah lagi, aku harus mengaduknya dengan sampah lama, supaya tidak dikorek oleh tikus. Akibatnya, bau sampah lama akan keluar dan perlu waktu beberapa jam untuk menghilangkan baunya.

Sekitar 3 minggu yang lalu, iseng-iseng, aku mengisi salah satu LRB (bekas LRB, tepatnya) di depan pagar dengan air. Air yang kuisi sama sekali tidak menggenang, tapi terus merembes ke dalam dengan mudah. Agak terkejut juga rasanya! Berarti di bawah lapisan keras itu ada rongga! Cukup banyak air yang kumasukkan ke bekas LRB itu. Kemudian aku menusuk lapisan di bagian atas LRB yang sudah tidak terlalu keras lagi.....dan.....bluuusss.... LRB itu menganga lagi.

Hal yang sama kuulangi pada LRB-LRB lain yang telah kubuat 1,5 tahun yang lalu. Hasilnya aku menemukan 7 lubang biopori yang bisa diisi sampah dapur lagi. Kedalamannya sama seperti 1,5 tahun yang lalu! Jadi sampah yang kumasukkan tahun lalu, saat ini telah menyusut.

Kupikir....
Sampah yang dimasukkan ke dalam LRB akan membusuk dan menyusut seiring dengan berjalannya waktu. LRB bukan mesin pembuat kompos, jadi tidak perlu memanen kompos setelah beberapa waktu. Sampah di dalam LRB akan menjadi makanan organisme di dalam tanah dan aktivitas organisme di dalam tanah akan membuat tanah di sekitarnya menjadi subur.

Kupikir....
betul, LRB bisa digunakan untuk mencegah banjir. Bila terus diisi sampah, yang merupakan makanan organisme dalam tanah, organisme dalam tanah akan aktif membuat lubang-lubang halus (biopori) di dalam tanah. Biopori inilah yang menyerap air yang masuk melalui LRB. Kalau aku bisa mengisi lubang biopori dengan air begitu banyak, tentunya air hujan juga akan diserap sama banyaknya. Seandainya setiap rumah di Jakarta ada 4 LRB saja, tentunya musim hujan tidak akan menimbulkan banjir.

go green Indonesia!

Sabtu, 07 Juni 2008

Duta Lingkungan Hidup

Kemarin secara kebetulan aku menyaksikan acara Ceriwis di TransTV. Bintang tamunya Marshanda. Katanya dia sudah 3 tahun menjadi Duta Lingkungan Hidup. Mungkin diangkat oleh Kementrian Lingkungan Hidup. Dari bincang-bincang dengan Indy Barenz dan Indra Bekti, terungkap bahwa tidak ada tugas apa-apa yang dibebankan kepada Duta Lingkungan Hidup. Sepertinya juga tidak ada pembekalan apa-apa untuk calon duta lingkungan hidup. Amat menyedihkan kenyataan bahwa Duta Lingkungan Hidup ternyata mendefinisikan sampah organik sebagai sampah yang dapat didaur ulang, dan sampah anorganik sebagai sampah yang tidak dapat didaur ulang. Seingat saya, 2 tahun yang lalu, Marshanda pernah mengucapkan hal yang sama dan setelah 2 tahun ternyata pengetahuannya masih segitu-gitu saja. Pemahaman yang sangat miskin, tidak sebanding dengan gelarnya sebagai Duta. Jangan-jangan Duta Lingkungan Hidup itu hanya sekedar pajangan KLH saja, sama seperti tong-tong sampah organik-anorganik di halte-halte bus. Bagaimana kalau kita undang Marshanda gabung ke milis gls, supaya setidaknya dalam 1 tahun ini dia bisa menambah pengetahuannya tentang lingkungan?
go green Indonesia!